selamat berkunjung di lautan hati,
tempat berbagi, menyelami, memberi
...
just have fun.



Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

PENYESALAN

Posted by Lautan Hati Oela Sunday, 3 February 2013 0 comments


Aku sungguh bahagia setelah berhasil membujuk suamiku untuk menjenguk ibu. Sudah lama sekali kami tak bertemu ibu. Aku sudah tak sabar ingin melihatnya, mencium tangannya dan mendengar ceritanya. Meskipun beliau cuma ibu mertuaku, tapi kami sangat akrab. Ia sering menceritakan tentang diri dan masa lalunya padaku. Cerita yang pertama kudengar darinya adalah peristiwa meniggalnya ayah mertuaku, suaminya. Sejak suaminya meninggal, ibu mertuaku menjadi single parent sampai sekarang.
            Ibu mertuaku seorang wanita yang tegar. Ia wanita yang keibuan, penyayang dan sabar. Ayah mertuaku meninggal karena kecelakaan saat anaknya masih berusia lima tahun.
            “Kalian mau besuk Bu Nasifah? Dia sudah menunggu dari tadi.” , seorang nenek tua menyambut dan menanyai kami di halaman depan taman nan rindang. Tangannya yang penuh keriput dan bergetar-getar itu mencoba meraih tanganku. Segera kubalas uluran tangannya dan menyalaminya dengan lembut.
            “Terimakasih Nek! Kami memang mau menjenguk ibu.”, jawabku ramah.
            Suamiku menarik lengan kiriku dengan paksa. Ia tak memberi tanggapan apapun atas sambutan nenek tua itu pada kami. Ia bergegas mengajakku segera menemui ibu didalam. Aku tergopoh-gopoh mengikuti langkahnya seraya berusaha memberikan senyuman termanisku pada nenek tua itu, sebelum kami meninggalkannya. Langkah kamipun diikuti Amelia, putri kami yang baru berusia tujuh tahun.
            “Akhirnya kalian datang. Sudah lama kutunggu kalian!”, ujar Ibu yang mencoba bangkit dari tempat duduknya di ruang tamu. Wajahnya sudah semakin renta. Rambutnya pun tak ada lagi yang kehitaman. Badannya terlihat semakin kurus. Rasanya aku tak tega membiarkannya hidup berlama-lama di tempat ini. Ingin rasanya aku membawanya pulang dan aku rawat sendiri. Tapi suamiku selalu melarang keras. Baginya, membiarkan ibu tetap berada di panti jompo adalah jalan terbaik buat kami.
            “Ibu semakin kurus! Maaf Bu, kami baru sempat datang sekarang!” ucapku setelah menyalami dan mencium kedua pipinya yang hanya tinggal tulang berlapis kulit itu.
            “Tak apa! Ibu senang kalian datang. Amelia sudah besar ya?”
            Suamiku tak menunjukkan reaksi apapun. Ia segera duduk di kursi tamu. Mengangkat kaki kanan dan meletakkan di atas tumpuan kaki kirinya. Tatapan matanya hampa dan terasa hambar.
            “Amel kangen sama eyang. Kapan eyang ke rumah Amel?” Kapan eyang main-main sama Amel lagi?”
            Kami bertiga terhentak dengan ucapan Amel. Aku hanya tertegun. Sementara suamiku tetap duduk acuh di kursi. Pandangannya beralih pada ibu. Ia menatap ibu dalam. Tapi tetap saja tak dapat kutangkap makna tatapan itu.
            Dengan bijak, ibu meraih tangan Amel, mengajaknya duduk bersebelahan dan menciumnya dengan tulus. Kulihat beberapa tetes air keluar dari matanya yang sayu. Dengan perlahan dan bergetar-getar, tangannya yang mulai keriput itu membelai rambut Amel penuh kasih sayang.
            Eyang sayang sama Amel. Kapanpun Amel mau, Amel bisa main sama eyang disini!”
            “Eyang banyak teman ya disini? Amel di rumah sendirian.”
            “Amel tidak sendirian, ada Mama, Papa, dan Bik Ijah. Eyang selalu mendoakan Amel, supaya Amel bahagia selamanya.”
            Eyang lebih suka tinggal sama teman-teman eyang disini ya daripada sama Amel?”
            Lagi-lagi aku terhentak. Rasanya tak kuat lagi aku berada di ruangan itu. Amelia masih belum mengerti, apa itu panti jompo. Dan kenapa neneknya berada disitu.
            “Kita harus segera pulang Amel, eyang mau istirahat!”, tiba-tiba suamiku memotong percakapan mereka.
            “Tapi Amel masih mau main sama eyang, Pa!”
            “Kita harus pulang, Papa harus kembali ke kantor. Ayo!”
            Ibu segera memeluk erat tubuh mungil Amel. Air matanya mengalir semakin deras. Aku semakin tak tega melihatnya. Ibu seakan tak mau melepas Amel. Pelukannya semakin erat. Dan isaknya semakin tak tertahankan. Tangannya yang masih bergetar itu menyentuh dan mengelus kedua pipi Amel.
            “Amel tidak boleh nakal! Harus nurut sama Mama, sama Papa. Jaga Mama!”, tutur ibu menasihati Amel dengan tulus dan penuh isak tangis.
            “Kami pamit dulu Bu! Ayo Amel, kita pulang!” suamiku menggapai tangan Amel dan menuntunnya keluar.
            Ibu masih tak kuasa menahan isak tangisnya. Aku jadi semakin tak tega. Rasanya ingin kubawa ia pulang bersama kami.
            “Maafkan kami Bu. Maafkan Maya, juga Mas Doni!” ucapku seraya memeluknya erat, sebelum suara panggilan suamiku dari luar memisahkan kami.
            Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku selalu tertuju pada ibu. Suamiku mengendarai mobil dengan cukup kencang, tak ada percakapan antara kami. Sementara Amel telah tertidur pulas.
            Rutinitasku di rumah tampaknya tak bisa mengalihkan perhatianku dari peristiwa di panti jompo kemarin. Bahkan ketika aku sudah berada di kantor. Rasanya bayangan ibu tak mau lepas dari benakku. Wajah perempuan yang semakin merenta itu sepertinya ingin mengikutiku, kemanapun kakiku melangkah dan dimanapun kepalaku singgah. Ibu mertuaku itu memang satu-satunya orang tua kami yang ada. Kedua orang tuaku sendiri sudah lama meninggal, sebelum aku menikah dengan Mas Doni.
            “Aku benar-benar ingin merawat ibu disini, Mas! Kita bawa saja ibu pulang ke rumah ini!”, aku membuka percakapan sebelum kami tidur.
            “Keputusanku sudah bulat! Ibu lebih baik di panti jompo. Toh aku mengirimkan uang setiap bulan. Pengurus panti tak perlu kerepotan.”
            “Tapi aku tak tega melihat ibu disana. Amelia juga sangat merindukan eyangnya!”
            “Kalaupun ibu di rumah ini, tak ada yang bisa merawatnya. Kamu sendiri sibuk kerja dan menemani Amel belajar di malam hari. Sedangkan Bi` Ijah harus mengurus rumah, mengurus segala keperluan kita, dan mengurus Amel juga! Kamu masih ingat kan Maya, dulu waktu ibu masih tinggal disini, kita kerepotan. Belum lagi kalau sakit! Maagh, darah tinggi dan pikunnya itu sering membuat kita kewalahan. Tinggal di panti jompo, itu jalan terbaik buat ibu dan kita. Aku tak mau direpotkan lagi!”
            “Jangan ngawur ngomongmu Mas! Istighfar. Bagaimanapun, ia ibumu, yang merawatmu, mendidikmu, sendirian. Bahkan sampai kau bisa berhasil seperti sekarang. Kau tak boleh lupa, ibu rela menjanda setelah ditinggal ayah, hanya demi hidup dan pendidikanmu. Kita harus mengabdi dan berterimakasih padanya!”
            “Rasa terimakasihku sudah cukup dengan mengirimi ibu uang tiap bulan. Ia tak kan kekurangan di panti jompo itu!”
            “Tapi aku kasihan …
            “Stop!!! Aku tak mau membahas lagi. Besuk pagi aku ada sidang, aku harus istirahat sekarang!”
            Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Aku benar-benar tak tahu, apa yang ada dalam pikiran suamiku. Aku tak yakin, membiarkan ibu di panti jompo adalah jalan terbaik. Tapi kalau tinggal di rumah kami, tak ada yang merawat dan mengurus ibu.
            Kami cuma punya satu pembantu, yang harus mengurus rumah dan segala keperluan Amelia. Suamiku setiap hari di pengadilan negeri, berangkat pagi dan pulang sore hari. Belum lagi kalau mau sidang, ia pasti sangat sibuk. Aku sendiri juga harus bekerja, pagi sampai sore hari. Maklum, aku hanya sebagai karyawati di sebuah perusahaan selular. Kalau hanya mengandalkan gaji suamiku, kami masih kekurangan. Karena biaya hidup sekarang semakin meningkat.
            Setiap kali aku mencoba membahas masalah ibu mertuaku, suamiku selalu naik pitam. Rasanya memang tak ada yang mampu merubah keputusannya itu. Sekalipun aku, atau Amelia, putri kandungnya.
            Selama empat tahun ibu tinggal di panti jompo itu, kami sangat jarang menjenguknya. Kunjungan kamipun bisa dihitung dengan jari. Suamiku sangat sibuk, aku jadi tak bisa memaksanya menjenguk ibu.
            Tiga bulan lebih kami tak membesuk ibu di panti. Tiba-tiba pengurus panti jompo memberitahu kami lewat telepon, ibu sakit dan sangat mengharap kehadiran kami. Aku memaksa suamiku pergi. Aku tiba-tiba sangat mengkhawatirkan keadaan ibu. Lagi-lagi suamiku sibuk dan menunda kepergian kami. Aku tak mampu berbuat apa-apa. Terpaksa aku turuti kemauan suamiku, menunda kepergian kami ke panti, setidaknya sampai minggu depan.
            Aku benar-benar tak mengerti, suamiku begitu larut dalam kesibukannya. Bahkan tak meluangkan sedikit waktu menjenguk ibu. Ia melarangku pergi sendiri ke panti itu. Aku tak berdaya, aku jadi dilema.
            Keinginanku mengunjungi ibu mertuaku begitu kuat. Tapi akupun tak mampu melawan suamiku, tak bisa mengabaikan larangan kerasnya untuk pergi sendirian menjenguk ibu. Kami jadi sering beradu mulut. Pertengkaran akhirnya sering tejadi antara kami, karena aku ingin menjenguk ibu sendirian.
            “Pak, ada telepon dari panti jompo!”, Bi’ Ijah memecah ketegangan kami di meja makan sewaktu sarapan pagi.
            Tanpa berkata apapun, suamiku segera menuju ruang tengah dan menerima telepon. Hatiku berdebar-debar, semakin lama semakin kencang. Pikiranku tertuju pada ibu. Beberapa menit berselang, suamiku muncul lagi di ruang makan, mengajak aku dan Amelia ke panti jompo.
            “Kami ikut berduka, Pak! Ibu Nasifah pergi mendadak. Waktu kami memanggil Ibu Nasifah untuk sarapan, beliau tidak memberi jawaban. Akhirnya kami mendobrak pintu kamarnya, ternyata beliau sudah tidak bernafas. Kami mohon maaf, Pak, Bu!” tutur salah seorang pengurus panti.
            Hatiku hancur, sedih. Air mataku pun tak dapat dibendung. Aku begitu menyesal, kenapa aku tak mampu melawan larangan suamiku. Kenapa aku tak mencoba pergi menjenguk ibu mertuaku itu tanpa harus pamit pada suamiku. Aku sungguh menyesal, sangat menyesal.
            Tapi ketika kulihat suamiku, penyesalanku yang mendalam ini rasanya belum apa-apa. Mas Doni terlihat menyimpan penyesalan yang lebih dalam dariku. Aku yakin benar, orang yang paling menyesal dan merasa bersalah adalah suamiku.
***********


Baca Selengkapnya ....

KUPINANG KAU DIHARI YANG FITRI

Posted by Lautan Hati Oela Wednesday, 15 August 2012 0 comments

 Model cincinSetiap orang mukmin pasti bergetar hatinya ketika gemuruh takbir berkumandang di hari kemenangan. Bagi umat Islam, Idul Fitri adalah hari yang sangat dinanti. Setelah sebulan berperang melawan hawa nafsu dan ego pribadi.

Bagiku, Idul fitri begitu banyak menyimpan kesan. Tak hanya hari kemenangan atau penyucian, tetapi juga sebuah kenangan tak terlupakan. Betapa tidak, Tuhan yang begitu bijak, telah menganugerahiku sebuah cinta di hari yang fitri. Tetapi Tuhan yang masih begitu bijak, telah mengambil cinta itu, pun di hari yang fitri. Hingga pada Idul Fitri kali ini, aku masih setia dan merasa nyaman berlama-lama di Taman Pemakaman Umum yang letaknya hanya kurang lebih lima ratus meter dari rumahku.

“Sudahlah, Nak. Pulanglah dulu, kakak dan adik-adikmu telah menunggu!”

“Nanti dulu Bu, aku masih ingin menemani suamiku. Lagi pula aku sudah bersalaman dan meminta maaf sama kakak dan adik-adik tadi”.

“Tapi sudah dua jam kamu di sini Mirna. Pulanglah, semua mengkhawatirkanmu!” ujar Ibu lembut.

“Ibu pulang saja dulu, sebentar lagi aku juga menyusul!” ucapku dengan menahan air mata.

“Baiklah Mirna, kami semua menunggumu di rumah”, tutur Ibu sebelum pergi dan membiarkan aku tetap duduk di makam suamiku.

Setahun yang lalu, tepat di hari Idul fitri, suamiku meninggal. Kondisinya saat itu sangat sehat. Bahkan kami masih sempat berkeliling ke rumah tetangga dan saudara dekat. Tapi setelah sholat Ashar, saat aku dan suamiku berniat bersilaturrohim ke rumah adik bungsuku di kampung sebelah, tiba-tiba suamiku merasa sangat lemah. Ia merebahkan diri di kamar dan menunda kepergian kami. Aku yang saat itu tengah bersiap-siap, akhirnya menuruti kata suamiku untuk menunda niat kami bersilaturrohim ke tempat adikku. Saat itu tiba-tiba suamiku menanggalkan pakaiannya dan memintaku menyelimutinya dengan selimut pemberian ibu mertuaku.

Selimut itu sudah lama tak pernah kami pakai. Bahkan untuk mengeluarkannya dari almari pun, suamiku melarangnya. Entah kenapa tiba-tiba saat itu suamiku sangat ingin aku menyelimutinya dengan selimut itu. Setelah sekian lama ia menyuruhku untuk menyimpan selimut hangat berwarna biru itu dengan rapi di almari.

“Aku sangat ingin merasakan hangatnya selimut dari ibu” tutur suamiku setengah berbisik. Tanpa banyak tanya lagi, aku pun segera menuruti keinginannya.

Disela-sela kupasangkan selimut itu, tiba-tiba suamiku tersenyum penuh haru. Ia menatapku pilu, serasa ada kata yang ingin ia ucapkan. Wajahnya terlihat begitu damai, jernih dan sayu. Ia tak pernah berhenti menatapku dalam-dalam, bahkan tak mau kutinggal meski sebentar. Dipegangnya jemariku erat-erat, hingga tak kuasa aku melepaskannya. Kulihat senyum manis tersungging di bibirnya. Persis seperti senyumannya saat kali pertama kami berjumpa.

“Maafkan aku Mirna, aku tak pernah bisa membuatmu bahagia. Aku tak bisa membelikanmu gaun yang indah, rumah yang megah, perhiasan yang mewah menawan” ucap suamiku lirih seraya meneteskan air mata. Tak pernah kulihat ia menangis penuh rasa sesal seperti sekarang.

“Aku sudah sangat bahagia hidup denganmu selama ini Mas!” jawabku dengan tulus.

“Kau masih sangat cantik Mirna, jaga diri baik-baik sayang!” ujarnya lembut. Aku tersentak mendengar ucapannya itu. Kalimat itu terasa begitu aneh bagiku.

Kugenggam erat tangan suamiku. Jemarinya begitu dingin. Kupegang keningnya, pipinya, telinganya, kakinya, semuanya dingin, sangat dingin. Wajahnya pucat pasi dan tiba-tiba tubuhnya menggigil. Tangannya menggenggam jemariku erat, dan semakin erat. Suamiku terlihat kesulitan bernafas, ia kejang-kejang hingga aku tak tega melihatnya. Kucoba menawarinya minum, tapi tak ada reaksi. Ia tetap menggenggam jemariku erat, sementara nafasnya semakin terlihat sulit. Ia semakin kejang.

Aku panik melihat suamiku menggelepar kejang. Aku tak mampu berbuat apapun, kecuali memegangnya erat-erat. Dengan nafas yang tersengal-sengal, ia berbisik, “Aku mencintaimu Mirna”. Badannya semakin dingin dan sesaat kemudian ia mengucap kalimat takbir, “Allahu Akbar”, sebelum ia menghembuskan nafas terakhir dan menutup matanya. Aku tak kuasa menahan tangis. Kucoba membangunkannya berkali-kali. “Mas Lutfi!!” teriakku pilu. Tapi ia tak bereaksi.

Jasad suamiku terbujur kaku. Seketika itu tubuhku lemas dan lunglai. Angin seakan berhenti bertiup. Suasana rumahku lengang meski banyak orang yang datang, ikut belasungkawa. Aku tak menghiraukan lagi siapa yang datang. Aku hanya tersungkur di sebelah jasad Mas Lutfi. Ranjang kami basah oleh air mataku yang tak bisa berhenti mengalir. Dinding kamar yang berwarna putih kusam itu pun serasa ikut tertunduk sedih. Sepoi angin yang biasanya masuk melalui jendela kecil di sudut kamar, saat itu seakan tertahan, enggan berhembus. Hatiku begitu sakit dan pilu. Rasanya aku tak mampu lagi menjalani kehidupanku.

“Kamu harus kuat, Nak. Ibu selalu ada di sampingmu, bersamamu” ucap ibu lirih seraya memelukku erat. Sepertinya ibu memahami apa yang kurasa, karena ibu juga sudah mengalami sakitnya ditinggal ayah. Tapi aku tahu, ibu sangat tak tega padaku, karena usia pernikahanku saat itu sangat singkat. Begitu cepat suamiku pergi menghadap Tuhan. Idul Fitri menjadi hari kesedihanku, kerapuhanku, hari berkabung ku. Suamiku dipanggil Tuhan saat usia pernikahan kami masih sangat dini.

Dua tahun sebelumnya, Idul Fitri adalah hari bahagia bagiku. Di hari yang suci itu, laki-laki yang begitu sholih, taat ibadah dan mapan secara materi telah meminangku. Perkenalan kami sangat singkat memang, tapi entah kenapa aku begitu yakin bahwa ia mampu menjadi imamku kelak.

Zainal Lutfi, pria yang kukenal lewat acara peringatan Nishfu Sya’ban di masjid itu telah memikat hatiku. Dia pria yang sederhana, wajahnya manis dan penuh kedamaian. Kulitnya sawo matang, tak begitu tinggi juga tak terlalu kurus. Hatinya sangat baik dan bijaksana. Ia sangat menghormati wanita, meskipun banyak para wanita yang menggodanya lantaran kemapanannya dalam finansial. Ia satu-satunya pemuda di kampung kami yang berhasil memiliki usaha tekstil dengan jumlah karyawan yang cukup banyak. Orang tuanya pengasuh salah satu pondok pesantren yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Sosok pria yang menjadi pujaan dan impian wanita.

Dua bulan kami bersahabat, aku pun tak mampu menepis kekagumanku padanya. Tiba-tiba tanpa kuduga sebelumnya, ia meminangku tepat ba’da Ashar di Idul Fitri. Mas Lutfi, begitu panggilan akrabku padanya, menungguku di beranda masjid selepas jamaah sholat Ashar. Wajahnya begitu syahdu penuh damai, senyumnya sangat manis. Dadaku berdebar kencang setiap kali aku melihat senyum manisnya.

“Mohon maaf lahir batin, Mirna. Taqobbal Allah minna waminkum!”

“Amin. Mohon maaf lahir dan batin juga, Mas Lutfi!”

“Aku ingin lebih memaknai Idul Fitri ini, Mirna. Aku akan membuat Idul Fitri ini semakin fitri, dengan meminta kesediaanmu menemani perjalanan hidupku. Bersedialah jadi teman hidupku, teman sejatiku menggapai Idul Fitri-Idul Fitri yang berikutnya. Kalau kau bersedia, nanti malam orang tuaku akan ke rumahmu. Menikahlah denganku. Dengan penuh harap, di hari yang fitri ini, kupinang kau Mirna” ucapnya mantap. Aku terharu, bahagia dan tak dapat berkata-kata. Sepertinya aku satu-satunya wanita yang paling bahagia di hari yang fitri. Tuhan memberiku cinta, seorang pria yang ku damba.

“Jangan terlalu lama di makam ini, Mirna! Di rumahmu banyak orang yang bersilaturrohim!”. Aku terkejut mendengar suara itu. Suara lembut ibu mertuaku.

“Aku tak tahu lagi harus seperti apa memaknai Idul Fitri ini, Bu! Tuhan menganugerahiku cinta di hari yang fitri. Tuhan mengirimku Mas Lutfi di hari yang fitri, tapi Tuhan juga telah mengambil cintaku di hari yang fitri!” ratapku pilu.

*************


Baca Selengkapnya ....

RAMADHAN TERAKHIR

Posted by Lautan Hati Oela Saturday, 11 August 2012 0 comments

 

Satu-satunya cara untuk membangkitkan semangat ibadah di bulan penuh berkah ini adalah dengan menanamkan keyakinan, bahwa bulan Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita!” tutur Aisyah padaku, sesaat sebelum aku bergegas meninggalkan musholla. Kalimat itu ia ucapkan padaku karena aku lebih memilih pergi bersama teman-teman sepermainanku, ketimbang mengikuti ajakan Aisyah untuk tadarus di musholla. Aku tetap tak menghiraukan perkataan Aisyah.

Kebiasaan yang tak pernah bisa aku ubah di setiap malam Minggu adalah pergi bersama teman-teman, nongkrong di pinggir jalan, menghabiskan malam Minggu. Sebenarnya kegiatan malam Mingguku itu tak bermanfaat. Hanya saja, aku pikir itu lebih baik daripada aku hanya berdiam diri di rumah. Setiap tubuh membutuhkan kesenangan, ketenangan. Dan bagiku, dengan nongkrong dan jalan-jalan seperti itu aku sudah mendapatkan kesenangan, bahkan ketenangan.

“Iya, tapi hanya kesenangan dan ketenangan sesaat!” protes Aisyah setiap kali aku menjelaskan perihal kebiasaan malam Mingguku yang tak bisa kutinggal, meski di bulan Ramadhan. Aisyah selalu mengingatkanku untuk mengurangi kebiasaan keluar malam dan pulang pagi di malam Minggu. Terlebih di bulan Ramadhan. Sebenarnya, meskipun bukan bulan Ramadhan, Aisyah juga sudah sangat sering menasihatiku agar membuang kebiasaan buruk itu, apalagi aku perempuan. Ya, satu-satunya perempuan di antara teman-teman nongkrongku tiap malam Minggu.

“Kau tak perlu khawatir, aku pasti bisa jaga diri! Teman-temanku itu menghargai perempuan!” ujarku pada Aisyah.

“Terserahlah. Tapi setidaknya, di bulan Ramadhan ini kau bisa mengurangi kebiasaan buruk itu. Mumpung ini bulan suci, bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan. Siapa yang bisa menjamin kalau kita masih hidup di Ramadhan tahun depan? Bisa jadi, ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita!’ tutur Aisyah.

“Ramadhan tahun lalu aku sudah banyak beribadah, berdoa dan meminta pada Tuhan. Tapi sampai sekarang aku tak pernah merasa Tuhan mengabulkan doaku. Jadi, aku rasa biasa-biasa sajalah! Bulan Ramadhan atau bukan, sama saja!”

“Huss, jangan ngawur kamu, ucapanmu itu sudah keterlaluan! Ingat Lila, tidak ada satu manusia pun yang tahu, berapa lama ia akan hidup di dunia ini. Beribadah itu harus tulus, tak perlu mengharap imbalan atau balasan dari Tuhan. Bukankah sudah kewajiban kita untuk mengabdikan diri pada Yang Maha Kaya, Sang pemilik alam, pemilik kita. Sebelum Dia mengambil kita untuk kembali pada Nya!?!”

“Tapi aku merasa sama saja. Aku rajin beribadah atau tidak, aku banyak berdo’a atau tidak, hidupku tetap sama saja, begini-begini saja. Kau lihat Pak Broto dan keluarganya itu, mereka tak pernah beribadah. Jangankan ibadah di bulan Ramadhan, sholat sehari-hari saja mereka tak pernah. Tapi mereka bisa kaya, sangat kaya bahkan!” tegasku sebelum meninggalkan Aisyah.

Aisyah menggelengkan kepala. Menghela nafas panjang seraya melanjutkan menata buku di rak, sesuai klasifikasinya. Aisyah dan aku memiliki sebuah toko buku yang sudah setahun kami rintis. Tidak terlalu besar memang. Tapi hasil yang kami dapat, cukup buat bertahan hidup. Setiap hari kami bergantian menjaga toko buku itu. Karena letaknya tak jauh dari rumahku dan rumah Aisyah, jadi kami bisa dengan gampang mengelola dan memantaunya. Niat awal Aisyah sebenarnya hanya mendirikan persewaan komik dan karya sastra. Tapi aku memberanikan diri untuk menambahkannya dengan menjual buku, selain juga menyewakan komik dan karya sastra.

Bermodalkan koleksi komik dan karya sastra Aisyah yang jumlahnya cukup banyak, ditambah dengan tabunganku yang tak seberapa, kami berdua pun membuka toko buku sekaligus rental komik dan karya sastra. Penghasilan yang kami dapat memang tidak banyak. Hal itulah yang membuatku iri dengan tetanggaku, Pak Broto. Ia juga memiliki beberapa toko dan rental PS yang penghasilannya besar. Rentalnya selalu ramai dengan anak-anak. Itulah yang membuat aku dan sahabatku Aisyah tak habis pikir. Generasi muda kita lebih tertarik bermain PS, video game daripada membaca buku.

Aku juga sering merasa Tuhan tidak adil. Pak Broto yang tidak pernah ibadah, berdoa atau mengenal Tuhan saja bisa sukses dan kaya raya. Sementara aku yang selalu mencoba meningkatkan ibadah seperti yang disarankan sahabatku Aisyah, tetap saja aku tak bisa seperti Pak Broto.

Aisyah selalu menyuruhku beristighfar setiap kali aku membahas Pak Broto yang bisa hidup sukses, enak, kaya raya tanpa harus beribadah.

@@@@@

Seperti malam Minggu biasanya, malam Minggu ini aku pergi bersama teman-teman. Roy, Bagas dan Andhika menyusulku di toko buku. Mereka rela menungguku yang masih menjaga toko buku karena Aisyah belum juga datang menggantikan aku. Setengah jam berselang, Aisyah muncul dan aku pun bergegas pergi bersama Roy, Bagas dan Andhika. Kami mengendarai motor masing-masing menuju alun-alun, tempat tongkrongan pertama kami sebelum berkumpul bersama para pengamen di Jalan Mpu Prapanca. Jalan itulah yang menjadi tempat favorit para pemuda di kota kami setiap menghabiskan malam panjang.

Di tengah perjalanan menuju alun-alun, tiba-tiba sebuah mobil box melaju sangat kencang di depanku. Demi menghindari mobil box itu, aku pun membawa motorku ke bahu jalan,meliuk-liuk bagai pembalap ulung yang beradu di arena balap. Karena melihat ketiga temanku yang sudah jauh di depan, aku menambah kecepatan motor hingga akhirnya aku bisa mendahului mereka. Tapi di pertigaan Jalan Mpu Prapanca, aku membelokkan motor ke arah kiri dengan kecepatan tinggi. Tanpa kusadari, di depan juga ada mobil pick up yang melaju sangat kencang. Aku kehilangan kendali, tak mampu lagi mengurangi kecepatan motorku. Aku semakin gagap dan tak bisa menghindari mobil pick up itu lagi. Kucoba untuk nge-rem, tapi terlambat. Mobil itu sudah menyentuh ujung motorku, saling berbenturan dan menghasilkan bunyi keras yang dahsyat. Aku terlempar ke trotoar, kepalaku terbentur batuan trotoar. Banyak darah segar mengalir dari kepalaku bagian belakang, hidung dan telinga. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.

Perlahan ku coba membuka mata meski terasa sangat berat. Sekelilingku terlihat berwarna putih semua, dua orang berusaha menenangkanku setelah aku sadar bahwa aku sudah di Rumah Sakit. Kepalaku sangat sakit, rasanya aku tak mampu bertahan. Tubuhku begitu lemah, tak bisa bergerak sedikit pun. Tiba-tiba nafasku tersengal-sengal, sulit bagiku untuk bernafas. Inikah akhir hidupku? Tuhan, seandainya aku mengikuti kata-kata Aisyah, seandainya kemarin-kemarin aku bisa meyakinkan diri bahwa ini Ramadhan terakhirku. Seketika itu ingatanku hanya tertuju pada Tuhan. Aku sungguh menyesal. Tak kusangka, Tuhan menjadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir bagiku.

Aku semakin sulit bernafas. Tiba-tiba kudengar lirih suara Aisyah menuntunku mengucap; “Laailaha illAllah....” sebelum nafasku lepas dan mataku tertutup selamanya.

***********


Baca Selengkapnya ....

BUKU HARIAN PEREMPUAN

Posted by Lautan Hati Oela Thursday, 3 May 2012 0 comments

 

vh7yomawSetelah melewati perdebatan panjang, akhirnya Tarjo menyetujui permintaan Nilam, istrinya. Nilam memaksa untuk menceritakan perjalanan hidupnya kepada para wartawan dengan sejujurnya. Sebagai artis yang sedang naik daun, Nilam mendapat permintaan dari wartawan TV swasta untuk wawancara eksklusif. Mereka ingin Nilam menceritakan perjalanan hidup dan kariernya.

Nilam memenuhi permintaan wartawan TV itu. Mereka datang pagi-pagi benar ke rumah Nilam. Mereka pun mulai wawancara eksklusif dan Nilam segera menceritakan kisah suksesnya.

“Hidup ini penuh liku dan rahasia. Begitu pula dalam hidup saya. Jalan hidup saya berliku. Sedih, sakit, luka, tangis dan tawa seperti tak ada beda.

Alhamdulillah, saat ini saya bisa merasakan sebuah kesuksesan yang nyata, yang tak pernah saya duga. Kesuksesan yang selama ini hanya jadi mimpi. Semua ini berawal dari buku harian saya, yang secara tak sengaja dibaca oleh Mas Hendra, sutradara dan novelis tenar itu.

Saya sangat berterima kasih pada Mas Hendra. Karena ia telah membawa saya pada posisi sekarang ini. Dia yang berinisiatif untuk menuliskan kisah yang ada dalam buku harian saya menjadi novelnya. Dan atas izin saya, akhirnya novel yang bersumber dari buku harian saya itu pun disulap menjadi sebuah sinetron. Sehingga saya bisa jadi artis, memerankan sinetron itu.

Mas Hendra bukan hanya membuat saya menjadi artis terkenal. Lebih dari itu, Mas Hendra telah menyelamatkan saya dari kasus KDRT yang saya alami. Melalui Mas Hendra dan novelnya itu, akhirnya saya dan suami menjadi keluarga yang harmonis lagi. Sungguh, rasa terima kasih saya tak terhingga pada Mas Hendra.

Sebelum menjadi seperti sekarang ini, saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Saya menikah dengan suami saya cukup lama. Mulanya, kami begitu bahagia meskipun dengan hidup yang sederhana. Suami saya buruh pabrik dan saya tak bekerja. Sehari-hari kami mengandalkan penghasilan dari suami saya saja.

Setelah tujuh tahun usia pernikahan kami, saya merasakan ada yang berbeda. Cobaan telah melanda saya dan suami. Rupanya, Tuhan benar-benar menguji dan ingin tahu, seberapa kuat cinta kami. Suami saya di PHK dari pabrik. Otomatis, hal itu sangat berpengaruh pada kehidupan rumah tangga kami.

Selepas dikeluarkan dari pabrik, suami saya tak lagi bisa mendapatkan pekerjaan. Kami hidup dari sisa tabungan yang ada. Belum lagi untuk biaya sekolah anak kami. Saat itu anak kami mau masuk bangku sekolah dasar. Kami masih mengandalkan uang tabungan.

Semakin hari, kami semakin terpuruk. Uang tabungan pun semakin menipis. Sementara suami saya tak kunjung mendapat kerja. Keadaan itulah yang akhirnya membuat suami saya berubah. Ia tak lagi lembut dan pengertian seperti awal saya mengenalnya. Suami saya jadi temperamen, keras dan kasar. Ia bahkan sering membentak saya, memukul serta mencaci saya.

“Sabar, sabar, itu saja yang bisa kau ucapkan. Kamu pikir kita bisa dapat uang untuk makan, hanya dengan bersabar?”, ucapan suami saya yang paling saya ingat. Karena memang saya kerap mengingatkannya untuk selalu bersabar.

“Dalam keadaan ini memang kita harus sabar, Mas. Kita minta bantuan dan petunjuk Tuhan dengan sabar dan sholat”, saya pun sering menjawabnya demikian.

“Aku sudah mengeluhkan semua ini pada Tuhan. Aku sudah berusaha sekuat tenagaku. Tapi kita masih saja seperti ini. Pertolongan Tuhan tak juga datang. Aku sudah letih”. Suami saya akhirnya tak bisa menahan amarahnya. Kalau sudah seperti itu, ia pun mencaci dan mengumpat saya. Dia selalu menyalahkan saya. Dia bilang saya istri yang tak berguna.

Saat itu saya merasa tidak kenal lagi dengan kepribadian dan karakter suami saya. Ia benar-benar berubah. Saya selalu saja salah di hadapannya. Kalaupun ada pekerjaan rumah yang belum saya selesaikan, ia selalu mencaci saya, memukul saya dan menampar saya. Bahkan pernah ia melemparkan sandal ke muka saya. Sehingga membekas di pipi saya.

Setahun suami saya menganggur. Setahun itu pula saya kerap mendapat perlakuan tidak baik dan tindak kekerasan darinya. Saya merasa tak kuat lagi. Tapi tak ada tempat bagi saya mengeluh dan berbagi. Saya selalu mengembalikan semua itu pada Tuhan. Saya selalu berdo’a agar suami saya tidak lagi berlaku kasar pada saya, agar dia kembali baik dan lembut seperti dulu, saat saya mengenalnya pertama kali.

Setiap saya mendapat perlakuan kasar dari suami, saya selalu mencoba tegar dan pasrah. Saya tak punya teman untuk sharing. Akhirnya, saya hanya bisa menumpahkan rasa kesal, kecewa, sakit dan tangis saya itu dalam buku harian.

Tiap kali saya dan suami bertengkar hebat, pasti berujung pada tindak kekerasannya pada saya. Paling sering, ia menampar saya. Setelah itu, ia segera pergi keluar meninggalkan rumah. Saat itu saya hanya bisa menangis. Saya pun berlari menuju halaman belakang rumah. Menuliskan semua kejadian yang saya alami, perasaan saya, setelah tindak kekerasan suami. Saya selalu menuliskan setiap kejadian seputar pertengkaran kami berdua secara detail, lengkap tanpa sisa.

“Bu, teman-teman di sekolah Bagus, pakaian seragam dan tasnya baru-baru. Cuma punya Bagus yang terlihat lusuh”, keluh anak saya suatu hari. Saat itu saya hanya mampu membelikan ia baju-baju dan tas bekas.

“Sabar ya Bagus! Besuk-besuk, kita beli baju dan tas baru buat kamu!” timpal saya mencoba meyakinkannya.

“Ibumu itu cuma bisa menyuruh sabar. Ayah sudah bosan dengan ocehannya agar kita terus sabar, sabar, sabar. Ayah sudah capek. Kalau kamu masih mau baju seragam baru, kamu tak usah sekolah saja sekalian!”, suami saya mulai marah. Saya hanya bisa terdiam. Berdo’a dalam hati, semoga Tuhan mengampuni kami dan segera mengangkat derajat hidup kami.

Suatu ketika, saya kehilangan buku harian saya. Setiap sudut rumah saya jelajahi. Halaman belakang rumah, tempat biasa saya menulis itu pun sudah berkali-kali saya telusuri. Tapi buku harian yang maha penting itu tak saya temukan.

Seingat saya, saya meninggalkan buku harian itu di belakang. Karena saat saya tengah menuliskan peristiwa pertengkaran saya dan suami, tiba-tiba suami saya teriak-teriak memanggil saya. Akhirnya saya panik, tergopoh-gopoh menghampirinya. Akibatnya, saya jadi lupa dengan buku harian saya.

Berulang kali saya menyisir halaman belakang rumah, tapi sia-sia. Padahal halaman belakang rumah saya bukan jalan umum. Halaman belakang rumah kami cuma berupa tanah sempit yang banyak ditumbuhi ilalang. Halaman belakang itu memang sempit tapi cukup asyik untuk menyendiri. Satu-satunya tempat yang paling saya sukai saat menulis di buku harian saya.

Dua minggu buku harian saya menghilang. Tiba-tiba ada seorang laki-laki datang ke rumah kami. Ia mengaku bernama Hendra. Selepas memperkenalkan dirinya, ia segera menunjukkan sebuah novel terbaru karyanya berjudul “Buku Harian Perempuan”.

Ia bercerita panjang lebar tentang asal usul novel itu. Ia terinspirasi dari buku harian saya. Ia pun mengembalikan buku harian saya yang tertinggal di halaman belakang rumah. Ia juga meminta maaf karena tidak sengaja menemukan buku harian itu dan menjadikannya sebagai ide penulisan novelnya.

Selain itu, ia juga meminta izin pada saya untuk membuat sinetron dari novel dan buku harian saya itu. Tak hanya itu, Mas Hendra meminta saya untuk jadi pemeran utama dalam sinetron itu. Sinetron yang berjudul sama dengan novel terbarunya, Buku Harian Perempuan.

Alhamdulillah, saya mampu memerankan tokoh utama dalam sinetron itu dengan baik. Akhirnya, kehidupan saya pun berubah. Saya banyak mendapat rizki halal dari sinetron. Suami saya pun menjadi sadar akan kesalahan-kesalahan dan kekurangannya selama setahun itu. Ia meminta maaf dengan tulus. Dan sampai sekarang, ia dengan sabar dan telaten menjadi manager saya. Alhamdulillah, Tuhan telah mengangkat derajat hidup kami. Tepat setelah kami cukup kuat melewati uji coba Nya.

Perjalanan hidup, berupa kebahagiaan dan keterpurukan itu pun yang mengajarkan banyak hal kepada saya. Dan saya ingin, semua perempuan di dunia ini juga dapat mengambil hikmahnya. Kepada semua perempuan, saya berpesan, jangan pernah menyerah dengan hidup. Kalaupun kita melihat suatu kemunkaran, dan kita tak mampu mengubahnya dengan tindakan atau ucapan kita, kita masih bisa mengubahnya dengan hati. Meskipun hati itu selemah-lemahnya iman. Semoga bermanfaat”.

Nilam mengakhiri penuturan kisah suksesnya secara eksklusif. Wartawan TV itu pun mengangguk penuh haru.

*************


Baca Selengkapnya ....

HANYA SEBUAH MIMPI

Posted by Lautan Hati Oela Friday, 27 April 2012 0 comments

 

Aku selalu mengutamakan belajar di atas kepentingan atau kegiatan yang lainnya. Bahkan di saat teman-temanku mengajak untuk bermain dan sekedar refreshing, aku pun tak segan-segan untuk menolaknya dengan halus. Aku sering membuat alasan yang bisa masuk di akal dan sebisa mungkin membuat mereka tidak membenciku, atau akan mengolok-olok ku karena kutu buku, karena kerjanya hanya belajar saja. Keputusanku untuk mengutamakan belajar semata-mata untuk masa depanku, bukan maksud untuk sok bijak, sombong, sok rajin, atau yang lain-lainya.

Belajar aku anggap sebagai kewajiban mutlak bagiku, kapan pun itu. Bahkan di saat aku lelah setelah membantu pekerjaan ibu di rumah atau menjaga kios bensin milik ayah. Meskipun aku merasa letih, sebisa mungkin aku mengupayakan diri untuk tetap belajar. Semua itu aku lakukan demi menggapai masa depan yang cerah.

Jujur, aku ingin membanggakan orang tuaku, aku sangat ingin masuk perguruan tinggi negeri yang bonafide, lulus dengan hasil yang maksimal serta cepat mendapatkan pekerjaan, sehingga orang tuaku akan merasa tidak sia-sia membiayai pendidikanku. Maklumlah, orang tuaku bukan golongan orang berada atau kaya, ekonomi keluarga kami sangat pas-pasan. Ayahku sebagai buruh pabrik dan membuka kios bensin yang kecil di depan rumah, sedangkan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa, tanpa karier yang mapan.

“Pulang sekolah nanti kita mampir ke mall yuk, sekalian nonton. Aku sudah ada info film terbaru nih!”, Anita membuka percakapan di tengah-tengah kami sewaktu istirahat. Aku hanya terdiam, sementara teman-temanku yang lain tampaknya menyambut perkataan Anita dengan begitu antusias.

“Ide yang brilian itu. Aku sepakat”. Ramon segera menjawab dengan mengacungkan kedua jempol tangannya ke arah Anita.

Oke lah kalau begitu, aku setuju!” Anton menimpali. “Yang lain bagaimana?” Tanyanya kemudian padaku dan dua temanku yang lain. Kami berenam memang selalu bersama, teman-teman satu sekolah pun hampir semuanya menghafal kebiasan kami yang selalu berkumpul di waktu istirahat.

“Wah, kalau aku dan Dina mah pasti sangat mau, tapi kantongku lagi kering nih!” keluh Bagas. Dia memang anak yang super irit di antara kami berenam. Dia lebih suka menerima ‘asupan’ dari orang lain ketimbang harus merogoh koceknya sendiri. Kami berenam pun memahami hal itu, dan kami memakluminya. Mungkin karena memang dia anak yang kondisi ekonomi keluarganya paling miris di antara kami.

“Nggak perlu khawatir kalau masalah itu, biar aku dech nanti yang tanggung. Aku traktir kalian semua, nonton, main game, makan dan jalan-jalan lah tentunya. Mumpung mobilku lagi nganggur!” sahut Ramon dengan santainya. Ramon memang anak yang paling kaya di antara kami, Papanya seorang pengusaha real estate terkemuka dan Mamanya pejabat negara. Ramon sangat suka berfoya-foya, bahkan tidak jarang dia mentraktir kami makan siang di kantin sekolah. Ramon sangat suka menghambur-hamburkan uang demi mendapatkan kesenangan, membeli semua barang-barang yang dia suka dan apapun yang dia inginkan. Pakaian dan barang-barang pribadinya semua ‘branded’, mahal-mahal tentunya. Tapi yang kami suka dari Ramon adalah sifat dermawannya. Dia suka memberi dan tidak segan-segan membantu kami saat kami ada masalah keuangan. Dan tentunya, Ramon lah yang sangat sering membayar makan siang kami di kantin sekolah.

“Yah, jawaban itu yang selalu aku tunggu dan selalu membuatku ingin terus memujimu Ramon! Thanks a lot!!” Bagas menyambut tawaran Ramon dengan berbunga-bunga. Sebetulnya kami semua sudah paham maksud dan arah pembicaraan Bagas dari tadi. Bagas memang satu-satunya orang yang tidak pernah segan atau enggan untuk menerima tawaran bantuan dari orang lain, apalagi kalau menyangkut masalah keuangan, jajan dan makanan, atau sekedar kebutuhan kesenangan. Sepertinya semua kebutuhan primer, sekunder dan tersiernya lebih banyak mengandalkan asupan bantuan dari orang lain.

Never mind. Aku sudah paham kok maumu!” sindir Ramon. Bagas hanya tersenyum simpul tanpa rasa malu sedikit pun. “Bagaimana dengan kamu Friska, pasti ikut dong nanti?” tanyanya kemudian padaku.

Lagi-lagi aku mencoba menolak dengan halus ajakan mereka. “Sorry kawan-kawan, nanti aku harus menjaga kios bensin. Lagi pula, bukannya bulan depan kita sudah ujian nasional, jadi kita harusnya belajar lebih rajin biar bisa lulus dengan hasil yang maksimal terus bisa masuk universitas negeri bonafide!?” jawabku hati-hati.

“Sudah aku duga sebelumnya! Pasti jawabanmu seperti itu, dan ternyata dugaanku tepat!” ujar Anita.

“ Friska! Sekali-kali dong kamu luangkan waktu untuk bermain-main dan enjoy dengan kami. Kalau masalah Unas dan ujian masuk universitas negeri, itu masalah gampang, bisa diatur besuk-besuk. Yang penting sekarang kita have fun!” sergah Ramon. Aku hanya terdiam dan tetap dengan pendirianku untuk menolak ikut dengan mereka. Untuk kesekian kalinya aku menolak ajakan mereka, dan untuk kesekian kalinya pula aku mengingatkan mereka untuk lebih serius lagi dalam belajar. Seperti biasa, mereka tidak mengindahkan saran dan ucapanku, bahkan mereka lebih memilih meninggalkanku sendiri.

Aku menyadari, aku dan mereka berbeda dalam berbagai hal, terutama masalah prinsip. Mereka lebih suka mengandalkan kesenangan dan kepuasan semu, sementara aku lebih berusaha untuk pikir panjang dan penuh pertimbangan dalam mengambil setiap langkah, apalagi menyangkut masalah pelajaran dan pendidikan. Aku selalu ingat dengan impianku untuk lulus sekolah dan bisa masuk universitas negeri. Jadi, sebisa mungkin aku berupaya untuk belajar lebih giat lagi demi meraih impianku itu. Aku sangat ingin membuat orang tuaku bangga.

Setiap jam istirahat, kami selalu berkumpul berenam di meja kantin paling pojok. Semua penghuni kantin pun hafal. Tidak sedikit dari mereka yang rela meninggalkan meja pojok itu saat kami berenam mulai muncul di depan pintu kantin. Bahkan sering juga meja itu sengaja dibiarkan kosong, seperti menanti penghuni tetapnya. Bu Inah, pengelola kantin sekolah pun memahami kalau kami berenam sangat suka duduk bersama di meja pojok. Bu Inah selalu mengingatkan setiap anak yang akan menempati meja pojok itu. “Sebentar lagi yang mpunya meja akan datang, kalian pindah cari meja lain saja” ujarnya setiap ada anak yang mendahului kami menempati meja itu. Alhasil, meja itu selalu siap menanti kedatangan kami berenam.

Sebenarnya aku sendiri merasa tidak enak dengan hal itu, apalagi perlakuan Bu Inah kepada kami berenam cukup istimewa. Semua ini karena Ramon. Bu Inah memandang kami karena Ramon anak dari pengusaha kaya dan pejabat negara. Bahkan Ramon sendiri sering membantu Bu Inah dalam hal uang. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak mendapat perlakuan seperti itu dari Bu Inah. Ia membedakan kami dengan siswa-siswa yang lain, hanya karena kami teman akrabnya Ramon.

Tidak hanya Bu Inah yang memperlakukan Ramon dengan istimewa, tetapi juga hampir semua guru di sekolah, terutama kepala sekolah. Itu wajar saja, karena Ramon anak dari orang yang berpengaruh dan ‘beruang’, jadi dengan mudah pihak sekolah meminta bantuan pada orang tua Ramon, baik dalam hal pendanaan, atau masalah perijinan kegiatan dan lain-lain.

“Ramon, tolong sampaikan ucapan terima kasih saya kepada orang tuamu, Nak!’ ucapan bapak kepala sekolah yang paling sering kudengar setiap kali usai acara pertemuan wali murid dan komite sekolah. Entah apa yang telah diperbuat orang tua Ramon. Yang jelas, kepala sekolah hanya mengatakan hal itu kepada Ramon saja, padahal yang ikut hadir pada acara pertemuan wali murid dan komite sekolah itu bukan hanya orang tua Ramon.

“Iya Pak, nanti saya sampaikan!” Ramon selalu menjawab demikian dengan seuntai senyum manis menghias dibibirnya.

Dengan keadaan Ramon yang seperti itu, aku tidak heran jika dia selalu mendapat perlakuan istimewa dari kepala sekolah, beberapa guru bahkan ibu pengelola kantin sekolah. Hanya guru yang disiplin dan sangat menghargai murid yang pandai saja yang tidak berlaku demikian pada Ramon. Maklum lah, Ramon bukan anak yang pandai atau cerdas. Dia hanya siswa yang biasa-biasa saja dalam hal intelektual, bahkan kemampuannya di bawah rata-rata. (Aku menghargainya untuk tidak mengatakan dia bodoh).

Setiap ada pekerjaan rumah atau ujian, Ramon selalu mengandalkan aku dan teman-temanku yang lain. Terutama Bagas, dia akan bersedia membantu Ramon dengan senang hati karena selalu mendapatkan imbalan yang fantastis. Ramon sering membelikan kemeja bermerk dan alat-alat elektronik lainnya. Terakhir, aku melihat Ramon memberi Bagas seperangkat PS2 karena telah mengerjakan tugasnya.

Selain tidak pandai, Ramon juga anak yang malas untuk belajar. Dia selalu meremehkan semua mata pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan guru. Bahkan saat menjelang Ujian Nasional pun, Ramon masih enggan belajar. “Malas ah, nanti saja lah aku belajarnya!” jawab Ramon setiap kali aku mengajaknya belajar. Sudah sangat sering aku mengingatkannya untuk belajar dan mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional serta ujian masuk perguruan tinggi, tapi dia selalu tak menghiraukanku. Akhirnya aku menyerah, terserah dia saja. Yang penting, sebagai teman, aku sudah berusaha mengingatkannya.

“Selamat ya, akhirnya kita lulus semua. Sebentar lagi kita akan jadi mahasiswa lho!” ucap Anita dengan bangganya. Kami semua menyambut dengan suka cita. Kami berenam memang lulus semua dengan nilai yang cukup baik, kecuali Ramon. Dia lulus dengan nilai yang pas-pasan, paling rendah di antara kami berenam. Tapi itu tak jadi soal baginya, karena cukup banyak juga teman-teman kami satu sekolah yang terpaksa harus mengulang ujian nasional lagi alias belum lulus di tahap pertama. Jadi Ramon cukup tenang dan bangga saja.

“Alhamdulillah, kita lulus. Tinggal bagaimana kita belajar untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi nih!” seru Dina. Aku pun mengamininya, menganggukkan kepalaku tanda setuju dengan perkataannya.

Setelah pengumuman lulus itu, kami semua belajar intens di rumah Anita untuk mempersiapkan diri dalam ujian masuk perguruan tinggi negeri. Kami semua datang, kecuali Ramon. Dia satu-satunya anak yang paling tenang dan santai, dia masih saja malas belajar seperti biasa. Kami pun memakluminya, terutama aku. Karena aku tahu betul sifatnya yang pemalas itu.

Hari yang paling ditunggu pun tiba. Pagi itu aku memburu surat kabar yang memuat pengumuman kelulusan seleksi mahasiswa perguruan tinggi negeri. Segera aku bolak-balik surat kabar itu halaman demi halaman. Kucermati setiap nama yang ada di dalamnya. Dengan lebih membuka mata lebar-lebar, kupelototi surat kabar itu. Dari atas sampai bawah, samping kanan dan kiri, hingga halaman berikutnya dan berikutnya lagi. Aku masih tetap mencari namaku di sana. Ternyata namaku tak kunjung kutemukan. Astaghfirullah, ternyata aku harus menelan ludah kekecewaan karena tidak lulus penjaringan mahasiswa perguruan tinggi negeri tahun ini. Orang tuaku berusaha menghiburku.

Seketika Ramon datang menghampiriku di rumah, dia tersenyum bangga karena namanya terpampang di pengumuman seleksi mahasiswa di surat kabar itu. Aku tersenyum seraya mengucapkan selamat padanya.

“Aku sudah belajar dengan sungguh-sungguh, ternyata masih belum lulus juga. Kamu hebat Ramon, belajar saja malas, tapi bisa lulus dan diterima di universitas negeri yang bonafide!” ujarku terus terang dan tanpa basa- basi lagi.

“Kamu mengandalkan otak, sedangkan aku mengandalkan uang!” jawabnya dengan ringan tanpa beban.

Ternyata, untuk bisa masuk dan diterima di universitas negeri yang bonafide hanya sebuah mimpi indahku saja, anak dari seorang buruh yang bisanya mengandalkan otak, tak bisa mengandalkan uang. Astaghfirullah…..

*************


Baca Selengkapnya ....

KETIKA PEREMPUAN BERTAUBAT

Posted by Lautan Hati Oela Sunday, 11 March 2012 0 comments


   “K
au benar-benar serius ingin bertaubat dan melahirkan jabang bayi dalam perutmu itu?”
            Poppy mengangguk, lemah tapi pasti. Ia yakin akan keputusannya untuk tetap mempertahankan anak hasil hubungan haramnya dengan Seno, laki-laki yang terakhir berkencan dengan Poppy tapi tak mau bertangung jawab, bahkan memaksa Poppy untuk menggugurkan kandungannya.
            “Sekarang aku sungguh menyesal. Aku sadar, diriku sangat kotor dan hina. Saat ini waktuku untuk bertaubat. Aku telah banyak mempermainkan laki-laki, memperdayanya, bersenang-senang dengannya dan mencampakkannya. Kini aku harus terima konsekuensinya”, tutur Poppy lembut dan penuh penyesalan.
            Aku sangat terharu mendengar penyesalan yang begitu tulus itu. Kuhela nafas panjang, menatap Poppy dalam. Ah, rasanya baru kali ini kulihat wajah perempuan sensual itu diselimuti penyesalan. Selama ini Poppy yang aku kenal sangat percaya diri, penuh pesona dan easy going. Poppy selalu bertindak semau hatinya, tidak pernah ada kata menyesal, selama keinginannya untuk bersenang-senang dapat terpenuhi. Terlebih soal laki-laki. Poppy banyak berkencan dan bersenang-senang dengan laki-laki dari berbagai kalangan, tipe dan profesi.
            Pernah suatu malam aku mendapatinya berkencan dengan eksekutif muda, pergi semalaman ke satu-satunya hotel termewah di kota kami. Namun keesokan paginya, Poppy menitipkan kunci rumahnya padaku dan berpamitan pergi ke luar kota bersama seorang pria yang jauh lebih tua darinya. Begitulah Poppy yang aku kenal, pergi dengan satu pria di suatu malam dan bermain dengan pria yang lain di esok paginya. Aku tak pernah merisaukannya, apalagi menasihatinya atau memperingatkannya. Aku pikir itu hak dia. Lagipula aku merasa tak enak hati, karena selama ini Poppy selalu membantuku setiap aku kesulitan, terutama dalam hal uang.
            Tapi kali ini hatiku tergugah. Poppy mengungkapkan rasa penyesalan yang begitu dalam, Ia memintaku untuk membimbingnya bertaubat, kembali ke jalan kebaikan. Rasanya begitu banyak kata-kata yang ingin kuucap untuk memberi nasihat pada Poppy. Namun entah mengapa setiap ingin membuka mulut, lidahku semakin kelu. Terasa begitu berat bagiku untuk mengeluarkan kata demi kata yang mengendap dalam otakku.
            “Aku yakin kau bisa membimbingku, menuntunku untuk bertaubat. Kau seorang muslimah yang taat. Aku pikir, kau orang yang tepat dalam pertaubatanku ini”, ucap Poppy seraya menyandarkan tubuhnya pada kursi rotan tua di teras depan tempat kostku. Malam itu kami berbincang didepan, karena di kamarku begitu panas. Kebetulan suasana kost saat itu sepi, para penghuninya sedang pergi menonton konser musik di alun-alun kota. Tinggal aku sendiri yang berada di kost.
            “Kau terlalu berlebihan Poppy. Aku hanya manusia biasa, masih banyak dosa juga. Kalau kau ingin seseorang yang mampu membimbingmu, aku sangatlah tak pantas. Tapi kalau kau mau, aku punya seorang ustadz. Guru mengajiku di masjid”, tawarku.
            “Kalau menurutmu itu lebih baik, aku setuju. Kau atur saja, kapan aku bisa bertemu ustadzmu itu!” pinta Poppy seraya menghisap rokoknya yang tinggal setengah batang.
            Poppy memang perokok berat. Perempuan bertubuh molek  nan cantik itu mengaku sulit meninggalkan rokok. Selama empat tahun aku mengenalnya akrab, dia tak pernah lupa membawa rokok kemanapun ia pergi.
            Menurut pengakuan Poppy ketika pertama kali aku mengenalnya, rokok adalah pelampiasan pertama baginya saat ia patah hati. Sedikit memang yang Poppy ceritakan padaku. Karena aku sendiri pun tak pernah mengorek-ngorek masa lalunya itu. Yang aku tahu, Poppy perokok berat, akrab dengan dunia malam, bahkan sering bergonta-ganti pasangan.
            Satu hal yang aku kagumi dari Poppy, bahwa dia begitu menghargaiku. Tak pernah dia mengajakku pergi ke diskotek, menawariku rokok dan minuman, atau memperkenalkanku dengan pria-pria kaya hidung belang. Sebaliknya, aku pun selalu menghormati dan menjaga perasaannya. Aku tak pernah mencampuri urusannya, mengomentari perbuatan jeleknya, atau menasihatinya agar meninggalkan hal-hal buruk itu. Meskipun sering juga aku merasa miris dan ingin menasihati Poppy.
            “Kau satu-satunya sahabat terbaikku, La! Setia kawan, jujur dan baik hati”, ujar Poppy setelah menghabiskan rokok dan meneguk secangkir teh hangat yang aku suguhkan padanya.
            “Kau tak ingin tahu tentang kehidupanku? Kau tak ingin bertanya, kenapa aku seperti ini? Suka mabuk, rokok dan laki-laki?!” tanyanya tiba-tiba.
            Aku begitu tersentak kaget. Lagi-lagi aku tak bisa membuka mulutku. Aku hanya tertegun, terdiam tanpa kata. Sementara Poppy menatapku penuh arti. Sepertinya ia masih menunggu jawabanku. Sesaat kemudian, ia menyalakan lagi rokok yang tinggal satu-satunya dalam bungkus berwarna merah tua itu.
            “Dulu aku seorang muslimah yang aktif mengikuti kegiatan keagamaan di masjid kampungku. Hingga aku jatuh cinta pada seorang pria. Dia muslim yang taat, pandai dan kuat agamanya. Kami berkenalan saat ada kegiatan Safari Ramadhan”, tutur Poppy memulai ceritanya.
            Dengan penuh perhatian, aku mendengar ceritanya. Kuseret kursi tempatku duduk, lalu kuarahkan lebih dekat lagi pada Poppy. Ia terlihat semakin bersemangat untuk bercerita, setelah melihat aku yang begitu antusias mendengarkannya.
            “Setelah beberapa bulan perkenalan kami, aku semakin mengaguminya, semakin jatuh cinta padanya. Kami pun menjalani hubungan yang serius. Dia laki-laki yang sholih, baik hati dan tampan. Dia putra tunggal seorang kiai pemilik pondok pesantren yang cukup besar dan terpandang di kampungku”, kenang Poppy.
            Aku masih memperhatikan dan mendengar ceritanya dengan baik. Tatapan mataku selalu tertuju padanya, tak berpaling sedikitpun.
            “Tapi mungkin memang nasibku yang malang. Orang tuanya tak menyetujui hubungan kami. Ibunya mengatakan bahwa aku tak pantas menjadi menantunya.”
            “Kenapa bisa begitu?”, tanyaku.
            “Karena aku bukan putri seorang kiai, karena orang tuaku tak memiliki pondok pesantren. Aku begitu sedih, sakit dan patah hati. Kesedihanku semakin bertambah ketika aku mendengar dia dijodohkan dengan putri seorang kiai pemilik pondok pesantren di kampung tetangga. Aku benar-benar tak bisa terima, aku semakin pilu. Rasaya aku mau mati saja”. Poppy tak mampu menahan air matanya. Ia membiarkan air itu mengalir deras dari mata indahnya.
            “Sejak saat itu aku mulai membenci laki-laki. Bagiku, laki-laki itu makhluk yang lemah, tak berpendirian, tak punya keberanian dan hanya bisa mempermainkan perempuan. Aku sangat kecewa. Aku sangat benci laki-laki, aku sangat dendam pada laki-laki, semua laki-laki!”, lanjut Poppy seraya mengusap setiap tetes air matanya. Aku masih mendengarnya penuh perhatian.
            “Aku benar-benar tak sanggup melihat mantan kekasihku hidup dengan wanita lain. Bagaimana aku bisa kuat melihat laki-laki yang sangat kucintai menjalin biduk rumah tangga dengan wanita lain? Aku tak sanggup. Hal itulah yang membuatku pergi ke kota ini. Kulampiaskan kekecewaanku pada alkohol dan rokok”. Poppy kembali menyeka air matanya.
            “Hingga pada suatu hari, seorang laki-laki datang padaku. Aku tak lagi tertarik. Tapi tiba-tiba timbul keinginan untuk bermain-main dengannya. Begitulah akhirnya aku sering bergonta-ganti laki-laki yang aku permainkan. Aku punya uang dan para lelaki itu pun tak segan-segan memberikan apapun yang ku mau. Aku tak hanya berkencan dengan pria kaya. Bahkan laki-laki yang tak berduit, atau juga para mahasiswa muda, semua pernah aku permainkan. Semua itu demi kepuasanku. Aku akan merasa puas dan bangga setelah mempermainkan banyak pria!” Poppy menghela nafas.
            Angin malam semakin dingin. Dinding-dinding rumah kost pun seakan beku. Tirai jendela mulai menari-nari, bergerak tanpa henti karena tertiup angin.
            “Tapi pada suatu malam, saat aku bekencan dengan Seno, aku mabuk berat. Kami bermalam di hotel. Malam itu pun aku lupa membawa pengaman, dan aku juga tak sadar bahwa saat itu masa suburku. Setelah aku menjelaskan semuanya pada Seno, dia tetap tak mau tahu dengan kehamilanku ini. Akhinya aku terkena karma”, sesal Poppy. Air matanya tak berhenti mengalir.
            “Sekarang aku benar-benar ingin bertaubat, kembali jadi muslimah yang taat. Dan aku akan membesarkan jabang bayiku ini” ucapnya mantap.
            Keesokan paginya, aku mempertemukan Poppy dengan Ustadz Zakaria. Guru mengajiku yang bersedia membimbing Poppy bertaubat dan mengajarinya mengaji.
            Poppy telihat kaget, tegang dan tak mampu berkata-kata. Begitu pula Ustadz Zakaria. Aku menjadi terheran heran, ada apa dengan mereka berdua. Ternyata Ustadz Zakaria adalah mantan kekasih Poppy yang menikah dengan wanita lain. Laki-laki yang mengecewakannya di masa lalu. Keduanya terlihat saling menatap dalam dan penuh haru. Aku pun hanya mampu membatu...
*************


Baca Selengkapnya ....
Cara Buat Email Di Google | Copyright of Lautan Hati Oela.