selamat berkunjung di lautan hati,
tempat berbagi, menyelami, memberi
...
just have fun.



Sekilas Tentang Kisah Wali Songo

Posted by Lautan Hati Oela Wednesday, 16 May 2018 0 comments

Wali adalah orang-orang yang dekat dengan Allah, orang yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Ketakwaan para wali sungguh tinggi melebihi hamba-hamba awwam lainnya. Maka kedekatan para wali terhadap Allah sudah melebihi orang awam juga tentunya.

Di Tanah Jawa, wali Allah yang dikenal ada sembilan orang. Sehingga para wali itu popular dengan istilah Wali Songo. Banyak kisah yang dialami dalam perjalanan perjuangan Wali Songo dalam menyebarkan Islam. 
Wali Songo di Tanah Jawa antara lain:
  • Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
          Nama asli Sunan Gresik adalah Maulana Malik Ibrahim, putera seorang ulama' dari Samarkand. Dari Tanah kelahirannya, Maulana Malik Ibrahim pergi ke Indonesia untuk menyebarkan Islam, dan menetap di Jawa tepatnya di kawasan Gresik. Beliau menyebarkan ajaran Islam dengan ramah, dan mengajarkan cara bercocok tanam pada masyarakat sekitar. Beliau juga mampu merangkul dan mengambil hati masyarakat. Sunan Maulana Malik Ibrahim juga membangun pondokan tempat belajar agama Islam di Gresik. Hingga akhirnya beliau wafat di Gresik.
  • Sunan Ampel (Raden Rahmatullah)
          Nama aslinya Sayyid Ali Rahmatullah dan dipanggil Raden Rahmat, putera Sunan Maulana Malik Ibrahim. Beliau menyebarkan ajaran Islam di Surabaya, di daerah Ampel Denta dan mendirikan pondok pesantren. Sunan Ampel mengenalkan istilah "Moh Limo" yang artinya; tidak mau melakukan lima hal. Moh Limo (tidak mau lima hal) itu antara lain: Moh Maen (tidak mau berjudi), Moh Ngombe (tidak mau minum minuman keras), Moh Maling (tidak mau mencuri), Moh Madat (tidak mau narkoba/obat obat terkarang), Moh Madon (tidak mau main perempuan). Dengan ajaran Moh Limo itu lah kemudian Sunan Ampel berhasil mendidik moral masyarakat. Banyak karomah yang dianugerahkan Allah terhadap Sunan Ampel, bahkan murid-muridnya pun banyak. Kejadian kejadian yang diluar nalar logika  juga tidak sedikit terjadi semasa kehidupan Sunan Ampel. beberapa diantaranya adalah fenomena kisah  Mbah Sholeh, murid Sunan Ampel sekaligus tukang sapu Masjid Ampel yang punya 9 makam. Ada juga Mbah Sonhaji (Mbah Bolong), yang mengatur letak pengimaman dan menentukan arah kiblat sholat di Masjid Ampel. Beliau meyakinkan semua masyarakat serta Sunan Ampel dengan melobangi dinding masjid melalui jarinya, sehingga melalui lobang itu dapat terlihat Kakbah di Mekkah.
  •  Sunan Giri (Maulana Ainul Yaqin)
           Nama kecilnya Raden Paku atau Maulana Ainul Yaqin. Beliau lahir di Blambangan (sekarang Banyuwangi). Sunan Giri berguru pada Sunan Ampel, kemudian mendirikan pesantren di daerah perbukitan desa Sidomukti, Gresik. Dalam Bahasa Jawa, bukit itu disebut dengan Giri, maka dijuluki Sunan Giri. Para santri pesantren Ssunan Giri juga menyebarkan Islam dengan gigih. Sunan Giri ahli seni, karyanya antara lain "lir ilir, cublak suweng." Sunan Giri wafat dan dimakamkan di Gunung Giri, Gresik.
  • Sunan Bonang (Makdum Ibrahim)
          Nama aslinya Raden Makdum Ibrahim, putera Sunan Ampel. Beliau menyebarkan ajaran Islam di daerah Tuban. Cara beliau menyebarkan Islam memang unik. Beliau mengajak masyarakat ke masjid, menciptakan dan memainkan gending/ gamelan/ tembang/ boning, sehingga akhirnya beliau dijuluki Sunan Bonang. Beliau wafat di Bawean dan dimakamkan di Tuban.
  •  Sunan Drajat (Raden Qosim)
           Nama kecilnya Raden Qosim, putera Sunan Ampel. Beliau menyebarkan ajaran Islam dan mendirikan padepokan santri di desa Drajat, Lamongan. Ajaran (suluk) dari Sunan Drajat yang terkenal yaitu : "wenehono tongkat wong kang wuto, wenehono mangan wong kang luwe, wenehono klambi wong kang mudo," Artinya: berilah tongkat pada orang yang buta, berilah makanan pada orang yang lapar, berilah baju pada orang yang telanjang. Ajaran (suluk) tersbeut bermakna filosofis tinggi, bahwa kita selayaknya peka terhadap kondisi sesama dan sekitar, bahwa sifat Rohman Rohim itu seharusnya nyata mewujud dalam kehidupan dan diri kita. Begitulah suluk ajaran Sunan Drajat, yang banyak memelihara anak yatim dan fakir miskin. Beliau wafat di Lamongan.
  • Sunan Kalijaga (Raden Syahid)
          Nama aslinya Raden Syahid, atau ada juga yang menyebutnya dengan Raden Sa'id. Beliau menyebarkan ajaran Islam di kesultanan Mataram, Jawa Tengah. Sunan Kalijaga adalah murid Sunan Bonang. Sunan Kalijaga tabah dan setia menjalankan perintah gurunya, menjaga tongkat di tepi sungai. Sunan Kalijaga berdakwah, menyebarkan ajaran Islam dengan menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, suluk. Beliau wafat di Jawa Tengah.
  • Sunan Kudus (Raden Ja'far Shodiq)
          Nama aslinya Raden Ja'far Shodiq. Beliau menyebarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Sunan Kudus berguru pada Sunan Kalijaga, sehingga caranya berdakwah juga mirip dengan Sunan Kalijaga, menggunakan seni. Sunan Kudus meninggal dunia dan dimakamkan di Kudus.
  • Sunan Gunung Jati (Fatahillah)
          Nama aslinya Syarif Hidayatullah atau ada juga yang menyebutnya dengan Fatahillah. Beliau menyebarkan Islam di Jawa Barat. Sunan Gunung Jati menyampaikan ajaran Islam dengan ramah, mendekati semua masyarakat dan membangun jalan-jalan. Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan di Gunung Jati, Cirebon.
  • Sunan Muria (Raden Umar Sa'id) 
          Nama aslinya Raden Umar Sa'id, putera Sunan Kalijaga. Cara dakwah beliau meniru Sunan Kalijaga. Sunan Muria menyebarkan Islam di Jepara, Jawa Tengah. Beliau mengajarkan keterampilan bercocok tanam, berdagang, dan melaut. Sunan Muria menetap, tinggal, hingga wafat dan dimakamkan di Gunung Muria, Jawa Tengah.

Demikian sekilas kisah dan sejarah Wali Songo, sembilan orang wali Allah yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Karomah dan ketaqwaan mereka semua memang tak dapat diragukan lagi, bahkan sampai saat ini pun makam para wali songo masih saja ramai di ziarahi orang-orang. Semoga karomah dan keberkahan para wali itu selalu Allah percikkan pada kita juga. Aamiin.......

Baca Selengkapnya ....

Maiyah Bromo; Mentadabburi Daur - Esai "Doaku Dosaku"

Posted by Lautan Hati Oela Friday, 23 March 2018 1 comments

Minggu 18 Maret 2018, Maiyah Bromo kembali mengagendakan untuk melingkar. Kegiatan itu merupakan kali kedua Maiyah Bromo berkumpul melingkar untuk refleksi, tabayyun, dan tadabbur bersama. Agenda melingkar sebelumnya telah terlaksana pada 11 Pebruari 2018. Saat itu pun sekaligus mendeklarasikan keberadaan Maiyah Bromo.

Pada kegiatan melingkar Maiyah Bromo yang kedua bertempat di Sologudig Kulon, Pajarakan Probolinggo, kediaman salah satu penggiat Maiyah Bromo, dengan mangambil tema tadabbur "Doaku Dosaku."
Esai yang ditulis Emha Ainun Nadjib dan di publish pada 3 Februari 2016 itu dipilih untuk dijadikan bahan tadabbur dan refleksi bersama di kalangan Maiyah Bromo. Penggiat dan jamaah Maiyah Bromo melingkar bersama untuk kemudian menganalisa, menyampaikan sudut pandang masing masing pribadi terkait "Doaku Dosaku" lantas dapat refleksi demi tujuan memperbaiki diri. 

Kegiatan dibuka dengan doa bersama, tawasshul kepada Nabi Muhammad SAW dan Mbah Nun yang telah begitu banyak menginspirasi untuk tetap terus bergerak serta menemukan jati diri. Setelah doa bersama usai, dilanjutkan dengan ruang diskusi dan tadabbur bersama.Sebagai pengantar, sang tuan rumah kala itu memulai dengan menyampaikan pendapat dan analisa pribadinya tentang esai dan pemikiran Mbah Nun, "Doaku Dosaku" lantas kemudian disambung dengan pemaparan pendapat dan sharing dari yang lain. Perbincangan dan diskusi berjalan dengan hangat.

Esai "Doaku Dosaku" yang ditulis Mbah Nun (baca: Emha Ainun Nadjib) merupakan bentuk evaluasi sekaligus pengingat bagi kita semua, bahwa melalui ucapan pun sangat mungkin kita menemui kesalahan dan dosa. Pada esai itu tersirat refleksi pribadi Mbah Nun setelah muncul sikap protes dari salah satu hadirin dalam sebuah forum yang beliau hadiri. Seseorang menggugat puisi karya Mbah Nun di tahun 1994 yang berjudul Doa Mohon Kutukan. Singkat cerita, dalam esai itu Mbah Nun menulis bahwa dengan kesedihan dan keprihatinan telah ia ditemukan; betapa banyak kesalahan dan kebodohannya. Di setiap awal langkah, appun dalam kehidupan ini, yang kutuding dan kucari kesalahnnya adalah diriku sendiri. Tulis Mbah Nun menutup esainya, "Doaku Dosaku"



Di kalangan lingkaran Miayah Bromo, mentadabburi "Doaku Dosaku" muncul ragam pendapat dan pandangan. Yang terpenting dari sekian pandangan dalam proses tadabbur Daur I ; Doaku Dosaku, bahwa esai yang sarat makna itu setidaknya mengajarkan untuk selalu berhati-hati dalam bertutur. Karena bisa jadi, Allah malah mengabulkan ucapan seseorang yang selaras dengan pikiran dan hatinya. Layaknya kalimat yang telah lazim beredar di khalayak, bahwa perkataan adalah doa. Maka bisa saja, ketika seseorang berkata, ada malaikat yang berada disisinya lantas kemudian mengaminkan sehingga akhirnya Allah mengabulkan perkataan itu. Mungkin, dari situ lah kemudian muncul kalimat 'Perkataan adalah Doa' atau juga 'Mulutmu Harimaumu'.

Sebuah kesimpulan yang bermula dari pertanyaan kemudian muncul dalam lingkar maiyah Bromo; "Keselarasan antara pikiran dan hati dalam berucap, bisa menjadi doa?"  Kalimat itu muncul setelah sekian pandangan dan pendapat muncul bergantian. Sekian pendapat mengarah pada perkataan yang bisa saja menjadi doa. Berikut juga ada beberapa contoh nyata yang muncul dan disampaikan dalam lingkaran Maiyah Bromo. Bahwa tidak jarang contoh nyata dalam kehidupan yang melalui pernyataan dan ucapannya lantas Allah mewujudkan. Maka bukankah itu sudah cukup menjadi bukti bahwa perkataan mampu menjadi sebuah doa. Beragam pendapat dan contoh nyata orang-orang yang dimakbul ucapannya oleh Allah itu yang kemudian menggiring pada sebuah pertanyaan; mungkinkah keselarasan antara pikiran dan hati dalam berucap, bisa menjadi doa? Saat seseorang berucap dan ketika ia berkata,  yang dikatakan itu sesuai antara isi hati dan pikirannya.... Ketika isi hati dan pikiran yang sama kemudian terlontar dalam ucapan, bisa saja menjadi doa. Maka bukan tidak mungkin jika Tuhan kemudian mengabulkan  ucapan seseorang yang selaras dengan pikiran dan hatinya. Untuk itulah, sangat dibutuhkan kehati-hatian dalam ucapan, perkataan, dan perbuatan atau tindakan. Wallahu a'lam


Baca Selengkapnya ....

Sebuah Refleksi: Nobar film Istirahatlah Kata Kata oleh FKPK

Posted by Lautan Hati Oela Monday, 19 March 2018 0 comments

FKPK atau Forum Kota Probolinggo Kreatif baru saja menggelar acara Nonton Bareng dan Bincang Film Istirahatlah Kata Kata, pada Sabtu, 17 Maret 2018. Bertempat di gedung kesenian Kota Probolinggo, acara tersebut berjalan cukup menarik dan keren. Mengulas film Istirahatlah Kata Kata setelah setahun dirilisnya film tersebut memang bukan hal yang baru, namun semangat penonton dan warga Probolinggo untuk bersama-sama menonton dan membincang film tersebut masih tak terlihat surut.

Diawali dengan pembacaan dua puisi karya Wiji Thukul berjudul "Istirahatlah Kata Kata" dan "Peringatan" acara tersebut berlangsung haru dan syahdu. *eaaaa....
Kurang lebih satu setengah jam berlangsung pemutaran film Istirahatlah Kata Kata, semua yang hadir melanjutkan dengan bincang dan diskusi tentang film tersebut. Sebagai pengantar, pihak FKPK dan pegiat film memberikan sedikit pemaparan tentang film tersebut. Lalu dilanjut dengan mengeluarkan   analisa dan pendapat pribadi para penonton yang hadir saat itu. Diskusi berlangsung dengan hangat.
Di awal pemaparannya, pihak FKPK menyebutkan bahwa film Istirahatlah Kata Kata memang sengaja dibuat untuk kepentingan festifal, bukan industry. Sehingga dengan begitu, film ini jelas tidak akan menarik minat banyak pemirsa, jika disbanding dengan film-film genre romance, petualang, komedi, dan lainnya yang memang sengaja dibuat untuk kepentingan industri. Maka jika misalnya diberikan pilihan, antara Nonton Bareng film Istirahatlah Kata Kata, dengan film Ayat Ayat Cinta atau sejenissnya, maka penonton dan warga akan leboh cenderung memilih pilihan yang kedua.
Tapi bagaimanapun, film Istirahatlah Kata Kata sungguh sebuah film yang sarat akan pesan pesan moral, dan dibutuhkan permenungan mendalam untuk menelannya. Film karya Yosep Anggi Noen itu benar-benar film reflektif, dimana penonton diminta untuk mampu merefleksikannya secara pribadi dan berdaulat.

Dalam sesi diskusi, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa film itu jauh dari ekspektasi. Karena penonton tadinya mengira bahwa film itu akna menggambarkan bagaimana Wiji Thukul aktif menggerakkan massa, menorehkan puisi-puisi satire karya nya, dan berapi-api menentang segala bentuk penindasan di negeri ini. Tapi ternyata sebaliknya, dalam film tersebut tak tampak sama sekali aksi-aksi menggelora untuk menentang penindasan dan rezim yang sedang berkuasa. Senyatanya, dalam film itu Wiji Thukul terlihat sebagai sosok yang tenang, bijak, dan tak jarang menampakkan sisi romantisme. Film tersebut pun tak menampilkan informasi lengkap tentang latar belakang Wiji Thukul.
Film Istirahatlah Kata Kata menceritakan bagaimana Wiji Thukul dalam masa pelarian di Borneo saat ia menjadi buron. Yang menjadi salah satu scene menarik dalam film itu adalah ketika terjadi dialog antara Wiji Thukul dengan juniornya. Sang junior berkata bahwa ia telah membaca banyak sajak karya Wiji Thukul dan yang paling disuka adalah: Buat apa baca banyak buku jika mulut kau bungkam melulu... Lantas dengan santai sang junior melanjutkan ucapannya: "setelah aku merenungi kalimat itu, maka aku putuskan untuk tidak lagi membaca buku...."
Salah satu bagian film yang bernada muatan sindiran. Tapi justeru itulah yang seharusnya menjadi salah satu bahan refleksi diri. Bagaimana minta baca kita dan generasi kita saat ini, bagaimana implementasi dari hasil membaca itu kemudian dalam kehidupan bermasyarakat kita dewasa ini. Wiji Thukul sejatinya sudah mampu menghadirkan semangat satire bagi generasi negeri ini.

Dalam sesi diskusi dan bincang-bincang, salah satu penggiat FKPK menceritakan sekilas bahwa pada masa orde baru, banyak aktivis yang hilang, menjadi buron dan diincar oleh penguasa masa itu. Cerita tentang bagaimana kekejaman dan penindasan yang terjadi pada era orde baru, bagaimana situasi politik saat itu, dan bagaimana sikap serta respon mahasiswa saat itu, sempat disinggung dalam acara nobar dan bincang film Istirahatlah Kata Kata.


Pada masa orde baru, partai politik hanya dibatasi tiga partai. Namun kemudian muncul satu partai yang bergerak aktif untuk menentang penindasan. Sebut saja Partai Rakyat Demokrasi atau PRD, yang sangat tidak disukai pemerintah saat itu. Maka apapun bentuk perlawanan serta ketidak sepahaman dengan pemerintah saat itu, otomatis dianggap PRD dan harus diberangus. Banyak aktivis ham dan kemanusiaan yang tiba-tiba menghilang saat itu, Wiji Thukul salah satunya. Dan, film Istirahatlah Kata Kata itu menggambarkan bagaimana sang aktivis, Wiji Thukul saat mengalami masa pelarian karena menjadi buron.

Dengan membincang perihal film Istirahatlah Kata Kata yang kemudian otomatis berujung pada deskripsi peristiwa dan keadaan Indonesia pada masa itu, dapat diketahui betapa kekejaman dan penindasan senyatanya penah terjadi di negeri ini. Entah berapa nyawa yang melayang, berapa jiwa yang menghilang tak ditemukan, berapa orang aktivis dan mahasiswa yang terpisah dari anggota keluarganya dan terpaksa hidup dalam pelarian. Hal itu rasanya sudah cukup mampu menggambarkan betapa kekejaman dan penindasan telah berlaku dan dilakukan sebuah rezim di negeri ini. Sungguh sangat menakutkan dan pilu mendengarnya. Bahkan untuk membayangkannya saja terasa sangat menyedihkan. Dan yang kemudian layak menjadi pertanyaan --yang mungkin menggelitik dan sedikit konyol--- adalah; mungkinkah sejarah kelam itu berulang?
Maka, mari hapuskan segala bentuk penindasan. Mengutip salah satu kalimat dalam sajak Wiji Thukul, Hanya ada satu kata... Lawaan!

Baca Selengkapnya ....

Lirik Lagu Taubat; Novia Kolopaking

Posted by Lautan Hati Oela Tuesday, 13 March 2018 0 comments

Lagu ini tergolong lagu lawas. Sudah beberapa tahun yang lalu rilis, tapi masih saja terdengar nyaman di telinga dan sungguh easy listening! Kalau tidak salah, kira-kira tahun 99 an lagu ini rilis, namun masih saja terdengar nyaman sampai sekarang. Salah satu alasan yang membuat saya tertarik mencatat lirik nya adalah, karena lirik lagu Taubat yang dinyanyikan Novia Kolopaking ini benar-benar menyimpan filosofis teramat dalam. Bahwa kerinduan akan perjumpaan dengan Yang Maha memang sudah sangat tak terbendung. Selain lirik nya, aransmen dan music nya benar-benar terdengar syahdu merasuk kalbu. Sangat mendukung untuk permenungan diri.... Sungguh!


Taubat

Detik demi detik berdetak sangat lambat
menyiksaku dalam penantian
Detik demi detik berdetak semakin lamban
menderaku dalam pengharapan

Semakin erat aku dekap kehidupan
semakin sempurna kekalahan
Dan ketika senja telah berangkat gelap
duka dan sesal datang terlambat

Betapa panjang jalan yang harus kulalui
untuk sampai di Haribaan-Mu
Betapa jauh jejak langkahku tersesat
sebelum akhirnya aku bertaubat


Baca Selengkapnya ....

Sebuah review subyektif: “EIFFEL I’M IN LOVE 2”

Posted by Lautan Hati Oela Thursday, 22 February 2018 0 comments

eiffel-2-480x600

Setelah tiga belas tahun berselang dari rilis perdana nya, EIFFEL I’M IN LOVE 2 kembali hadir meramaikan jagad perfilman Indonesia. EIFFEL I’M IN LOVE 2 mulai rilis sejak 14 Februari 2018 ini. Sequel film yang menceritakan kisah kasih dua orang anak manusia ini layak dinikmati. Namun ada beberapa  beberapa hal yang membedakan antara EIFFEL I’M IN LOVE 1 dan 2. Kendati pemain utama dalam film ini masih tetap sama, namun ada greget yang berbeda. Tapi itu sekedar tanggapan pribadi saja. Pasti ada tanggapan berbeda dari orang lain.

Menurut pendapat pribadi saja ini yaaa…. secara alur cerita atau plot, greget pada film pertama masih lebih terasa dibanding film yang kedua. Penampilan sang aktor utama, Adit lebih terlihat cool dibanding pada EIFFEL I’M IN LOVE  2. Dalam EIFFEL I’M IN LOVE 2, cerita masih saja “ngambang”. Ending ceritanya masih saja menyisakan tanya.

Di sequelnya ini, EIFFEL I’M IN LOVE menceritakan kisah Adit dan Tita yang sudah mendewasa. Setelah pada EIFFEL I’M IN LOVE  pertama dulu, Adit pergi ke Paris setelah bertunangan dengan Tita. Sementara Tita masih sekolah di Jakarta. Mereka berdua tetap bertahan menjalin hubungan pertunangan. Tita tetap rela menunggu Adit sampai dua belas tahun lamanya. Hingga akhirnya Tita berhasil menjadi dokter hewan, sedangkan Adit di Paris menjalankan karir dan bisnisnya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan tertundanya pernikahan mereka berdua. Selain karena ayah Adit yang sakit sampai kemudian meninggal, faktor LDR dan karakter  keduanya juga masih mendominasi keberlangsungan hubungan mereka berdua. Adit dan Tita masih saja kerap mengalami pertikaian-pertikaian kecil yang  kocak, namun juga terkadang mengancam kelanjutan hubungan keduanya.

Di EIFFEL I’M IN LOVE 2 ini Tita telihat galau karena Adit tak kunjung melamarnya. Beberapa faktor tadi yang menjadi penyebab kenapa Adit masih belumm juga melamar Tita. Sepeninggal ayahnya, Adit terpaksa harus menjual rumah untuk melunasi hutang-hutang ayahnya selama sakit hingga kemudian meninggal. Sisa dari hasil penjualan rumah digunakan untuk membeli apartemen yang masih belum jadi dan butuh sentuhan renovasi di sana sini. Hal itu lah yang kemudian menjadi salah satu faktor tertundanya kelanjutan serta kepastian hubungan Tita dan Adit. Dengan alasan masih belum siap, Adit mengutarakan bahwa ia masih belum bisa segera menikahi Tita. Pertama kali mendengar alasan ‘belum siap” itu menjadikan Tita sangat shock, sedih, dan kecil hati. Sontak Tita hanya ingin mengakhiri hubungannya dengan Adit. Sementara di sisi lain, Adit sangat bimbang. Ia masih sangat menyayangi Tita, dan sangat ingin Tita mengerti keadaannya. Namun belum sempat menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada Tita, terlebih dahulu Tita sudah salah paham dan enggan menerima penjelasan dari Adit. Terlebih ketika hendak kembali ke rumah Adit, Tita yang bersama sahabat sekaligus kakak iparnya, Uni melihat Adit tengah berduaan dengan perempuan di sebuah restoran. Mereka terihat begitu akrab dan mesra. Hal itu tentu saja membuat Tita semakin sedih sekaligus juga marah pada Adit.

Di ujung cerita, Adit akhirnya berhasil membawa Tita ke apartmen yang baru saja ia beli dan masih dalam tahao renovasi. Saat itu pun Adit menjelaskan penyebab yang selama ini membuatnya masih belum siap menikahi Tita dalam waktu dekat. Hingga sampai pada kalimat penjelasan bahwa Adit harus menghubungi kawanya, Cindi untuk bisa segera mempercepat tahapan renovasi apartemen milik Adit yang akan ia tinggali bersama Tita. Saat itupun terungkap juga bahwa Cindi adalah teman Adit yang pernah Tita lihat di restoran bersama Adit. Maka saat itu Tita juga menyadari bahwa selama ini ia sudah salah paham terhadap Adit. Dan itulah yang menjadi ending dalam cerita itu…. EIFFEL I’M IN LOVE 2

Nah, kalau dibanding EIFFEL I’M IN LOVE yang pertama, menurut pendapat pribadi sih…. lebih greget dan lebih menarik edisi pertama. Kalau di EIFFEL I’M IN LOVE edisi pertama, karakter Adit tampak begitu cool, keren, dan sok bijak. Sedangkan Tita masih kekanak kanakan, manja, dan butuh perhatian. Rasanya, perpaduan dua karakter pasangan itu sangat menggelikan dan menarik untuk dinikmati. Kemudian lagi, di EIFFEL I’M IN LOVE yang pertama seringkali membuat saya tertawa karena beberapa kali tebakan saya akan kelanjutan alur cerita ternyata salah. Adit yang diam-diam mengajak Uni ‘berkomplot’ dalam rangka merebut hati Tita, masih sangat tak terbaca oleh saya. Hahhahah…. entah karena penulis skenario nya yang benar-benar briliant atau saya yang lemot untuk sekedar membaca kelanjutan alur cerita… hahahhah. Dan, bagian yang paling menarik yang saya suka adalah ketika dia akhir cerita, saat Adit mengutarakan isi hatinya kepada Tita dengan menggunakan bahasa Perancis, Adit mengatakan betapa berarti Tita untuk dirinya dan betapa Adit mencintai Tita. Maka saat itu Tita hanya diam termangu, tampak seperti menyimpan rasa haru. Namun tak begiti lama setelah itu, Tita menjawab dengan eajah dan ekspresi yang sangat lugu: “artinya apa?” Hahhahahhah…. betapa bagian akhir cerita itu menjadi kesan yang menarik dan membekas bagi saya pribadi…. Kerren memang penuis ceritanya.

Sekai lagi, terkait masalah tampilan dan karakter, Adit di EIFFEL I’M IN LOVE di edisi yang pertama lebih menarik dan lebih saya sukai. Tapi itu hanya sebatas pendapat pribadi saya saja… Smile

Yaaaaah... demikian sedikit review subyektif perihal film EIFFEL I’M IN LOVE 2…. Silakan menikmati film nya sendiri. Dan, tentu saja akan hadir pendapat pribadi bagi penonton dan penikmat film yang lain, yang sangat mungkin berbeda dengan pendapat dan/atau review subyektif saya…. hhhhh… Namanya saja review subyektif, maka saya menggunakan kaca mata pola pikir dan hati secara personal dan sifatnya sangat subjektif, yang tentu saja tidak ada standar kebenaran secara mutlak. Hahahahhahah… Open-mouthed smile


Baca Selengkapnya ....

Memilih Pemimpin Ideal

Posted by Lautan Hati Oela Thursday, 15 February 2018 0 comments

ilustrasi-pilkada-serentak

Juni  2018 ini mungkin bisa menjadi salah satu bulan yang cukup memorable, di mana beberapa daerah akan melaksanakan pilkada secara serentak. Tidak kurang dari 150 kabupaten/kota yang akan menggelar pesta demokrasi pada tahun ini. Sehingga akan ada kepala daerah baru menggantikan kepala daerah sebelumnya. Itu artinya, media akan semakin ramai dihiasi beragam pembicaraan bertemakan pemilihan pemimpin, kepemimpinan, perpolitikan, dan hal-hal yang terkait dengannya. Semoga kalimat-kalimat satire dan saling sindir antar pendukung kandidat tidak marak di berbagai media sosial.

Pesimistis terhadap pemilihan pemimpin atau kepala daerah sejatinya masih dapat terasa. Hal itu setidaknya dapat diraba dari kurang maksimalnya partisipasi warga dalam menggunakan hak pilih. Entah berapa ragam cara dan sosialisasi yang digunakan sang penyelenggara pilkada demi meningkatkan keikutsertaan warga dalam menggunakan hak pilih, yang kemudian berujung pada peningkatan pendidikan politik warga.

Tidak sedikit masyarakat yang khawatir, jangan-jangan kandidat hanya tergiur pada nikmat kekuasaan, dan bukan benar-benar berpikir untuk mengabdikan kekuasaannya untuk masyarakat. Kekhawatiran itu cukup wajar, karena senyatanya di beberapa daerah, urusan pilkada ini terlihat buruk. Pilkada ibarat permainan dadu antara orang-orang yang itu-itu saja, yang hanya bergeser dari suami ke istri, dari bapak ke anak, atau dari buyut ke cicit. Di beberapa daerah, kandidat dalam pilkada hanya berkisar pada 4L (Lu lagi Lu Lagi). Tapi mungkin tidak semua kandidiat buruk. Bisa saja ada diantara mereka yang bersungguh-sungguh untuk mengabdikan dirinya bagi kemajuan daerah, sekaligus peningkatan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya kelak.

Terminologi Kepemimpinan

Banyak definisi kepemimpinan yang bertebaran dari para pakar. Kepemimpinan sebagai konsep manajemen sejatinya dapat dirumuskan dalam berbagai definisi, tergantung dari mana titik tolak pemikirannya. Kepemimpinan bisa diartikan dengan kemampuan memengaruhi orang lain untuk bekerja keras, untuk bergerak mencapai tujuan bersama.

Kepemimpinan memiliki beberapa unsur pokok antara lain: kemampuan mempengaruhi, melibatkan orang lain dan situasi kelompok, kemampuan mengarahkan dan memotivasi tingkah laku orang lain atau kelompok, serta adanya kerja sama untuk mencapai tujuan.

Kemampuan dan proses mempengaruhi merupakan unsur penting dalam terminologi kepemimpinan. Hal itu setidaknya menandakan bahwa, orang yang memiliki kemampuan mempengaruhi sejatinya telah mempunyai kemampuan dasar kepemimpinan. Maka, seorang pemimpin setidaknya mampu mempengaruhi orang lain atau siapa pun yang dipimpinnya. Ukuran sebenarnya kepemimpinan adalah pengaruh. Jika tidak mempunyai pengaruh atau tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi maka tidak akan dapat memimpin orang lain dengan mudah.

Terkait tipologi dan/atau gaya kepemimpinan, setidaknya ada empat gaya kepemimpinan yang lazim dan mafhum di kalangan khalayak, antara lain: Authoritarian (otoriter) yakni gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijaksanaan dari dirinya sendiri secara penuh. Keputusan adalah hak prerogatif pemimpin. Tidak ada satupun yang mampu menghalangi langkah dan keputusan pemimpin dengan tipe ini. Ada pula gaya kepemimpinan Democratic (demokratis) di mana pemimpin memberikan wewenang secara luas kepada orang atau tim yang dipimpinnya. Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin memberi banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab bawahannya. Ada juga gaya kepemimpinan Laissez Faire (bebas) di mana pemimpin hanya terlibat dalam kuantitas kecil, sehingga para bawahan dan tim yang dipimpinnya secara aktif menentukan tujuan serta penyelesaian masalah yang dihadapi. Lantas ada gaya kepemimpinan Karismatis, yakni pemimpin memiliki kekuatan, energi, daya tarik, dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain. Sehingga ia mempunyai pengikut yang banyak. Pemimpin jenis ini dianggap memiliki supernatural power. Totalitas kepemimpinan karismatis memancarkan pengaruh dan daya tarik yang cukup besar.

Begitulah sebagian kecil gaya atau tipologi kepemimpinan, di samping ada gaya kepemimpinan yang lain tentunya. Di antara berbagai gaya kepemimpinan yang ada, masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Sehingga untuk menentukan gaya kepemimpinan yang paling tepat rasanya cukup sulit. Karena gaya kepemimpinan yang baik itu tergantung pada berbagai faktor yang mempengaruhinya.

Pemimpin: Pergulatan Identitas dan Entitas

Pemimpin sejatinya memiliki peran yang kompleks. Selain mampu memimpin dan mempengaruhi, pemimpin seharusnya bisa mengayomi, mengarahkan, mengedukasi, mengadvice. Lebih dari itu, pemimpin juga harus mampu membawa siapa pun yang dipimpinnya menuju keadaan yang lebih baik.

Dalam term pilkada yang akan digelar serentak beberapa bulan lagi, masyarakat senyatanya memiliki andil penting untuk menemukan sosok pemimpin ideal. Bagaimana tidak, keberlanjutan dan masa depan warga dalam sebuah daerah salah satunya bergantung pada bagaimana pemimpinnya. Kebijakan kebijakan pemimpin yang benar-benar berpihak pada kebaikan dan peningkatan kesejahteraan warga pada gilirannya akan membawa warga menuju masa depan yang lebih baik. Untuk itulah dibutuhkan keterlibatan dan ketepatan dalam memilih pemimpin ideal.

Anggapan negatif dan pesimistis terhadap pilkada seyogianya tidak lantas menjadikan warga bersifat apatis terhadap upaya peningkatan kesejahteraan dan keberlanjutan masa depan daerah. Kendati nyata terlihat hal-hal negatif dalam pilkada di beberapa daerah, semoga masyarakat masih tetap menaruh harapan positif terhadap sistem dan upaya menemukan pemimpin, demi memperbaiki masa depan warga dan generasi mendatang.

Mungkin sedikit saran dalam upaya memilih pemimpin ideal ini layak dipertimbangkan. Dalam menemukan pemimpin serta menggunakan hak pilih pada pilkada, cobalah cek dan kroscek kandidat yang ada. Setidaknya, melirik kandidat yang peduli terhadap pendidikan menjadi salah satu langkah yang sangat logis. Betapapun, orang yang peduli terhadap pendidikan berarti peduli kepada masa depan.

Masa depan daerah dan bangsa ini terletak di tangan anak-anak yang sekarang masih duduk di bangku sekolah. Jika institusi pendidikan mampu menyelenggarakan pendidikan yang baik dan berkualitas, hingga kemudian melahirkan manusia-manusia cerdas dan bijak. Betapa tenangnya kita membayangkan masa depan yang lebih baik. Maka kandidat yang mempunyai niat dan kesanggupan untuk menyelenggarakan pendidikan yang baik bagi seluruh warga patut dipertimbangkan.

Jika menilik karakter, dalam Islam sendiri disebutkan bahwa Rasulullah pernah memberikan kategori pemimpin atau kepala daerah yang ideal, di antaranya amanah, memperoleh jabatan dengan cara yang benar, serta memiliki kemampuan menunaikan tugas kepemimpinan. Seorang pemimpin itu wajib memiliki kemampuan untuk membuat kehidupan masyarakatnya menjadi lebih baik. Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari menyebutkan bahwa, “pemimpin yang tidak berusaha meningkatkan materi, akhlak, dan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya maka tidak akan masuk surga.”

Bertolak dari ciri karakter pemimpin dalam Islam tersebut, maka sejatinya pemimpin itu bukanlah sebuah peran yang mudah. Jati diri pemimpin dengan beratnya peran serta tanggung jawabnya itu seharusnya mampu membuat entitas dan eksistensi seorang pemimpin benar-benar menebar manfaat dan keberkahan bagi masyarakat.

Kendati kontestasi politik di tahun ini cukup mampu melelahkan masyarakat, semoga kejenuhan terhadap pemilu tidak lantas melanda. Karena di tahun ini secara beruntun pilkada yang disusul dengan persiapan pileg, dan pilpres bisa saja kemudian membuat jenuh masyarakat terhadap pemilu. Sehingga melahirkan sifat apatis masyarakat terhadap keberlanjutan dan peningkatam masa depan bangsa.

Dengan mendasarkan pada pertimbangan yang matang, semoga pesta demokrasi yang digelar benar-benar mampu menjadi salah satu cara memilih pemimpin ideal, sehingga pada gilirannya kemudian mampu memperbaiki masa depan. Wallahu a’lam…


Baca Selengkapnya ....

Menakar Progresivitas Warga Melalui event “SEMIPRO (Seminggu di Probolinggo)”

Posted by Lautan Hati Oela Saturday, 27 January 2018 0 comments

Menakar Progresivitas Warga Melalui event SEMIPRO (Seminggu di Probolinggo)*

Sudah sangat akrab di telinga, event tahunan yang rutin digelar Pemerintah Kota Probolinggo untuk mendayagunakan potensi daerah. Semipro, yang merupakan kependekan dari kalimat Seminggu di kota Probolinggo senyatanya dari tahun ke tahun memiliki keunikan dan keragaman tersendiri. Setiap tahun dari awal mula digelar, Semipro selalu mengalami beragam perubahan, bahkan tema yang diusung pun selalu berbeda.

Kendati mengalami beragam perubahan atau mungkin inovasi, event Semipro dan segala hal yang terkait memang selayaknya mendapat perhatian lebih, untuk kemudian dievaluasi pada setiap akhir pelaksanaannya. Tujuan evaluasi tidak lain adalah untuk memperbaiki diri. Sehingga pada gelaran ke depan dan tahun-tahun berikutnya akan jauh lebih baik, serta semakin menebar kemanfaatan.

Ada perbedaan signifikan pada Semipro tahun ini yang resmi digelar sejak 28 Agustus sampai 4 September 2017. Perbedaan yang paling kental terlihat adalah sentuhan dan nilai religius didalamnya. Entah karena tahun ini bertepatan dengan peringatan Idul Adha, atau karena ada masukan dari berbagai pihak, atau memang inisiatif penyelenggara untuk lebih menekankan nuansa religiusitas dalam event tahunan itu. Bisa saja, penyelenggara belajar dari pengalaman di tahun sebelumnya, yang sempat muncul keriuhan bahkan keributan antar warga pada saat dan/atau pasca event Semipro. Sehingga pada Semipro tahun ini, ada beberapa item yang ditambah dengan sentuhan religi. Contohnya pada opening yang menyertakan musik religi, atau pada malam idul adha yang digelar takbir bersama. Lebih dari itu, pada 10 Dzulhijjah (1 September 2017) digelar pengajian Akbar di kawasan pusat event Semipro (baca: alun-alun).

Terlepas dari alasan yang melatar belakangi kentalnya nuansa religi pada event Semipro tahun ini, sejatinya warga memang membutuhkan semacam ‘terapi psikis’ atau pencerahan-pencerahan batin yang mampu menggugah dan mengarahkan hanya kepada hal-hal kebaikan. Sehingga efek domino yang muncul adalah kemampuan dan kemauan untuk memberi rasa aman terhadap orang lain. Jika hal itu mewujud dalam diri masing-masing warga, maka bukan tidak mungkin, kedamaian, keramahan, keteduhan, serta kerukunan menjadi icon warga Probolinggo. Dan pada saat yang sama, tentunya tindak kriminal akan mampu terkikis habis. Maka upaya menambah sentuhan religi sejatinya mampu menjadi nilai plus dalam event Semipro tahun ini. Salut!

Seperti biasa, event Semipro yang dipusatkan di alun-alun kota Probolinggo cukup menarik perhatian warga. Penyajian ragam seni budaya serta bermacam produk kuliner senyatanya mampu menyedot animo warga untuk ikut andil dan ambil bagian dalam event tahunan itu. Maka tentu saja, banyak hal yang perlu dipersiapkan dan diperhatikan demi suksesi event tersebut. Hal paling krusial yang perlu diperhatikan adalah tentang keamanan. Berdasar pada pengalaman sebelumnya, sempat terjadi kericuhan antar warga pada saat event Semipro berlangsung. Hal ini setidaknya berhubungan dengan kondisi psikologi dan tingkat emosional warga, selain jaminan keamanan yang masif dari penyelenggara tentunya. Maka kemudian faktor keamanan tidak bisa dinegasikan.

Selain sampah —entah bekas mainan, bungkus makanan atau yang lainnya— hal yang identik dengan gelaran Semipro adalah kemacetan. Meskipun tidak dalam kategori parah, kemacetan tetap saja menjadi hal yang kerap ‘mengganggu’. Dan tentu saja, salah satu hal yang erat kaitannya dengan kemacetan yang terkadang muncul pada event tahunan kota Probolinggo itu adalah lahan parkir. Senyatanya, lahan parkir merupakan sesuatu yang kemudian menjadi dualism object pada event Semipro. Di satu sisi, lahan parkir bisa menjadi ‘ladang pemasukan’ bagi warga sekitar alun-alun kota Probolinggo. Warga sekitar yang memiliki lahan kosong dan cukup luas, dapat dengan mudah merelakannya menjadi tempat parkir motor bagi pengunjung Semipro. Di sisi lain, beberapa warga yang sekaligus pemilik usaha (kafe atau toko) disekitar alun-alun tidak bersedia menyediakan tempat parkirnya untuk pengunjung Semipro. Dengan jelas, mereka meletakkan papan bertuliskan “bukan tempat parkir pengunjung Semipro”. Maka tak ayal, lahan parkir juga hal yang tidak kalah urgen untuk dikonsep-matangkan. Karena selain terkait dengan keamanan dan kenyaman pengunjung, hal itu juga berimbas pada kelancaran lalu lintas sekitar kawasan pusat event Semipro.

Arus lalu lintas di kawasan pusat Semipro (alun-alun) juga perlu diperhatikan. Lalu lintas disekitar kawasan parkir kendaraan harusnya lebih ditata rapi. Seandainya memang kawasan itu khusus untuk parkir, maka lalu lintas di kawasan itu seyogianya steril, tidak ada lagi kendaraaan yang lalu lalang di kawasan parkir kendaraan, bahkan dengan kendaraan plat merah sekalipun. Tentang kuliner yang disajikan, jenisnya sudah cukup beragam. Bermacam jenis kuliner berbagai etnik setiap hari ada, penyajiannya pun menarik. Namun masih saja banyak jenis yang harganya kurang ‘merakyat’. Ah... lagi lagi, itu hanya pendapat pribadi dan beberapa kawan yang –maklumlah— masih berkantong cekak.

Sedikit hal yang mungkin saja bisa menjadi bahan refleksi dan evaluasi adalah, dampak jangka panjang yang diberikan event Semipro terhadap warga, bukan hanya sekedar dampak institusional semata. Apa saja yang akan menjadi tujuan akhir event Semipro? Sudah mampukah event sekaliber Semipro melahirkan putra asli daerah yang expert dibidangnya (seni, budaya, kuliner, wawasan keilmuan-kepribadian dan kreatifitas lainnya), yang bisa terus mengakar dan menjalar bahkan selepas event Semipro berselang? Lantas seberapa progresif warga Probolinggo disaat, dan setelah event Semipro terlaksana? Jangan-jangan warga hanya (merasa) diberdayakan ketika event Semipro berlangsung, dan setelahnya akan kembali menjadi warga yang murung, tanpa keinginan serta kekuatan untuk terus maju memperbaiki diri dan kondisi pribadi? akankah warga hanya terberdaya dan progresif selama setahun sekali, seperti pelaksanaan Semipro? Atau memang Semipro hanya cukup pada peningkatan kunjungan wisatawan di Probolinggo, dan selebrasi warga untuk belanja, bermain, berlibur serta menghibur diri yang mungkin saja mengarah pada titik hedonisme belaka? Maka kemudian, sustainable effect dari event Semipro selayaknya juga mengarah pada progresivitas warga. Wallahua’lam...

*terbit di tabloid SUARA KOTA Probolinggo EDISI 08 tahun 2017


Baca Selengkapnya ....
Cara Buat Email Di Google | Copyright of Lautan Hati Oela.